Rabu, 08 April 2020

PENGORGANISASIAN


TUGAS MANAGEMENT “PENGORGANISASIAN”








Disusun Oleh :

1.   MARIA ULFA LISTIANI
(2016030005)
2.   SIMPLESIUS I.R SILA
(2016030008)
3.   VERAWATI ERMIA R. K
(2016030011)
4.   ZULFI LIDIAWATI
(2016030014)
5.   THELDA A TASARANE
(2016030194)
6.   NATALIA MUSAKE
(2016030032)
7.   MARIA HEDGWINA G.D
(2016030212)
8.   AIDIL AKBAR LAITUPA
(2015031135)
9.   FERONICA ROZITA P
(2016030138)
10. HENI ZHAHVITRI
(2016030231)
11. AYU SRI UTAMI
(2016030145)




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG PROGRAM STUDI SARJANA ILMU KEPERAWATAN
2020



KATA PENGANTAR



Puji syukur kepada Tuhan YME, atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami selaku penyusun dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “MAKALAH MANAGEMENT TENTANG PENGORGANISASIAN”
Dengan selesainya Makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari semua pihak. Untuk itu penulis menyampaikan setulus-tulusnya ucapan terima kasih kepada :
1.        Dra. Soelijah Hadi, M.Kes. MM, selaku Ketua STIKES Husada Jombang.
2.        Sylvie Puspita, S. Kep, Ns, M. Kep, selaku Ketua Program Study Keperawatan STIKES Husada Jombang
3.        Roni Setiawan, S. Kep., Ns, selaku Dosen Pembimbing Keperawatan Management
4.        Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian dan penyusunan Makalah ini Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam Malakah ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan Makalah selanjutnya.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi teman-teman Mahasiswa pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.







Jombang,     April 2020




Penulis,


Daftar Isi
Cover................................................................................................................................... 1
Daftar Isi............................................................................................................................. 3
BAB I Pendahuluan
1.1    Latar Belakang............................................................................................................. 4
1.2    Rumusan Masalah......................................................................................................... 5
1.3    Tujuan........................................................................................................................... 5
BAB II Pembahasan
3.1       Konsep Dasar, Tujuan Dan Prinsip Pengorganisasian.................................................. 6
3.2       Jenis Struktur Organisasi Dalam Keperawatan............................................................ 8
3.3       Perbedaan Budaya Dan Iklim Organisasi..................................................................... 20
3.4       Implementasi Pengorganisasian Keperawatan Di Ruang Rawat Dan Puskesmas........ 23
BAB III Penutup
3.1       Kesimpulan................................................................................................................... 28
3.2       Saran............................................................................................................................. 28
Daftar Pustaka..................................................................................................................... 29

BAB 1 PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Managemen adalah suatu proses merancang dan memelihara suatu lingkungan dimana orang-orang yang bekerja sama didalam suatu kelompok dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan seefisien mungkin (Suarli dan Subakhtiar, 2009). Menegemen keperawatan adalah satu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Nursalam, 2013). Fungsi manajemen keperawatan sejalan dengan fungsi manajemen secara umum yaitu pengorganisasian, perencanaan, kepemimpinan, dan pengawasan (Suarli dan Bahtiar, 2009).
Pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya mengarahkan bawahan untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi (Hasibuan, 2014).
Pengorganisasian adalah hal penting untuk dipelajari, pengorganisasian mencakup hal-hal yang diatur untuk mencapai sebuah tujuan bersama. Antara pimpinan dan bawahan, atau antara ketua dan staf memiliki saling keterkaitan tanggung jawab untuk mencapai tujuan bersama. Pengorganisasian adalah fungsi manajemen yang juga mempunyai peranan penting seperti halnya fungsi perencanaan. Dengan fungsi pengorganisasian, seluruh sumber daya yang dimiliki oleh intitusi pelayanan kesehatan (manusia dan bukan manusia) diatur penggunaannya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan institusi.

Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf untuk mencapai tujuan organisasi. Rumah sakit merupakan sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya.


1.2    Rumusan Masalah

a.      Bagaimana konsep dasar, tujuan dan prinsip pengorganisasian ?

b.      Apa saja jenis struktur organisasi dalam keperawatan ?

c.      Apa perbedaan budaya dan iklim organisasi ?

d.      Bagaimana implementasi keperawatan di ruang rawat dan puskesmas ?


C. Tujuan Penulisan

a.      Untuk mengetahui konsep dasar, tujuan dan prinsip pengorganisasian

b.     Untuk mengetahui jenis struktur organisasi dalam keperawatan

c.      Untuk mengetahui perbedaan budaya dan iklim organisasi

d.     Untuk mengetahui implementasi keperawatan di ruang rawat dan puskesmas

BAB II PEMBAHASAN


2.1       Konsep Dasar, Tujuan dan Prinsip Pengorganisasian

2.1.3 Konsep Dasar

Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasikan untuk mencapai tujuan. Akibat terjadinya interaksi dengan karakteristik masing-masing serta banyak kepentingan yang membentuk gaya hidup, pola perilaku, dan etika kerja, yang semuanya akan mencirikan kondisi suatu organisasi. (Marquis & Huston, 2010).
Pengorganisasian adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan mengalokasi dan mengatur sumber daya untuk menyelesaikan tujuan yang dicapai. Peran manajer dalam fungsi pengorganisasian adalah menentukan, tugas yang akan dikerjakan, individu yang akan mengerjakan, pengelompokkan tugas, struktur pertanggungjawaban, dan proses pengambilan keputusan. Manajer bertanggung jawab juga dalam merancang pekerjaan staf yang digunakan untuk mencapai sasaran organisasi (Robins & Coulter, 2007).
Fungsi pengorganisasian akan dapat dilaksanakan dengan baik kalau manajer pelayanan kesehatan memahami prinsip-prinsip pengorganisasian. Pengorganisasian adalah langkah untuk menetapkan, menggolongkan dan mengatur berbagai macam kegiatan, menetapkan tugas-tugas pokok dan wewenang dan pendelegasian wewenang oleh pimpinan kepada staf untuk mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan batasan tersebut maka fungsi organisasi ialah alat untuk memadukan dan mengatur semua kegiatan yang ada kaitannya dengan personel,

finansial, material dan tata cara pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Berdasarkan pandangan tersebut maka organisasi dipandang sebagai wadah kerjasama antar orang-orang (organisasi bersifat statis). Organisasi juga dapat ditinjau dari kerjaan dan pembagian tugas para staf untuk mencapai tujuan (organisasi bersifat dinamis). Organisasi dapat juga dilihat dari strategi pimpinan untuk mengelolah organisasi (organisasi sebagai instrument pimpinan).


2.1.2   Tujuan Pengorganisasian

a     Tujuan dari pengorganisasian adalah sebagai berikut: b       Mempermudah pelaksanaan tugas.
c           Mempermudah pimpinan melakukan pengendalian.

d          Agar kegiatan-kegiatan para bawahan terarah ke satu tujuan yang telah ditentukan.
e           Agar dapat menentukan orang-orang yang tepat untuk tugas-tugas yang ada.


2.1.3   Prinsip-Prinsip Pengorganisasian

Beberapa prinsip pokok dari pengorganisasian adalah sebagai berikut: a            Tujuan organisasi harus dipahami oleh staf
b           Membagi habis pekerjaan kedalam kegiatan pokok untuk mencapai tujuan

c            Mengolompokkan kegiatan pokok ke dalam satuan kegiatan yang lebih operasional (elemen kegiatan)
d           Menetapkan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh staf dan fasilitas pendukungnya.
e            Penugasan personel yang cakap. f     Mendelegasikan wewenang

g Dalam pembagian tugas  harus diperhatikan  keseimbangan  antara wewenang dan tanggung jawab. Wewenang yang terlalu besar pada staf mendorong terjadinya kasus korupsi akibat peluang yang besar tetapi pengawasan yang kurang.
2.2       Jenis Struktur Organisasi dalam Keperawatan

2.2.1     Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah proses pengelompokan orang, alat - alat, tugas -

tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang seimbang dan sesuai dengan rencana operasional sehingga suatu organisasi dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan ( Subur,1997 ).
Pengorganisasian meliputi proses memutuskan tingkat organisasi yang diperlukan untuk obyektif divisi keperawatan, departemen, pelayanan atau unit. Setiap unit harus melalui tipe pekerjaan , yang langsung dilakukan terhadap klien, macam perawat sesuai dengan pekerjaan , serta jumlah pengelola atau supervisi yang diperlukan ( Swanburg, 2000 ).
Proses pengorganisasian dapat dirinci sebagai berikut :

a.           Memahami tujuan

b.           Menetapkan tugas pokok dan merinci kegiatan

c.           Mengelompokkan tugas / jabatan

d.           Menyusun struktur organisasi dan departementasi

e.           Menyusun otoritas organisasi

f.            Mengisi jabatan / staffing

g.           Fasilitating

2.2.2     Konsep Pengorganisasian

Dalam menganalisa pengaruh pola formal organisasional pada sifat dasar komunikasi antara para pekerja, perlu untuk mengerti konsep sebagai berikut:
a.      Peran

Peran diartikan sebagai suatu set perilaku dan sikap yang diharapkan dari seseorang oleh mereka yang berinteraksi dengannya. Peran seseorang diartikan oleh harapan - harapan orang lain, individu tersebut sangat bergantung pada harapan mereka bagi aspek identitas pribadinya. Sepanjang hidupnya seseorang memegang serangkaian peran, yang berubah dengan perubahan keadaan hidupnya. Sebagai pekerja sebuah departemen keperawatan, perawat dapat memegang beberapa peran jabatan pada waktu yang sama. Kepala perawat tertentu merupakan bawahan bagi atasannya, seorang supervisor bagi staf perawatnya, rekan kerja kepala perawat lainnya dan mungkin kepala panitia atau konsultan bagi para pekerja di divisi lain dalam organisasinya. Karena perbedaan sikap dan perilaku diperlukan dalam pelaksanaan masing - masing peran, kepala perawat yang telah diuraikan di atas harus sering " merubah seragam " selama hari kerjanya, penyesuaian dan penyesuaian ulang ekspresi wajah, bahasa tubuh, nada suara dan bahasa untuk memenuhi harapan pihak yang berkepentingan lainnya yang telah mengartikan setiap peran.
b.     Kekuasaan

Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar bersikap sesuai dengan harapan seseorang. Karena kekuasaan tumbuh dari interaksi manusia, kekuasaan tidak bersifat statis, tetapi terus menerus berubah. Perolehan kekuasaan oleh perawat perorangan tampaknya memudahkan perolehan kekuasaan yang lebih besar dalam situasi yang sama. Kemungkinan

karena meningkatnya jumlah komunikasi dengan yang lain atau perubahan dalam kualitas komunikasi tersebut. Begitu juga sebaliknya, kehilangan kekuasaan seorang pekerja bisa mengubah hubungan timbal baliknya dengan yang lain sehingga membuatnya terus menerus kehilangan kekuasaan seiring dengan waktu. Kekuasaan terdiri dari beberapa jenis yaitu: kekuasaan memberikan penghargaan ( Reward power ) adalah kesanggupan untuk memberikan penghargaan terhadap yang lain, kekuasaan paksaan ( Coercive power ) adalah kesanggupan untuk menerapkan hukuman kepada yang lain. Menejer perawat dapat menghukum seorang pegawai melalui penurunan pangkat, skors, atau pemecatan. Kekuasaan referensi ( Referent power ) adalah kemampuan mengilhami kebanggaan tertentu pada yang lain sehingga mereka berharap untuk mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan obyek kekaguman mereka. Kekuasaan ahli ( Expert power ) merupakan kemampuan untuk meyakinkan yang lain supaya seseorang memiliki derajat pengetahuan dan keahlian tinggi dalam area spesialisasi.
c.      Status

Konsep status berhubungan erat dengan konsep kekuasaan. Status dapat diartikan sebagai urutan penganugerahan suatu kelompok kepada seseorang yang sesuai dengan penilaian mereka atas pekerjaan dan sumbangsihnya. Derajat status yang diberikan kepada pekerjaan tertentu erat kaitannya dengan jarak dari hierarki organisasi tingkat atas, jumlah keahlian yang diperlukan dalam melaksanakan tugas kerja tersebut, derajat pelatihan khusus, atau pendidikan yang diperlukan bagi posisi tersebut, tingkat tanggung jawab dan otonomi yang diharapkan dalam pelaksanaan kerja dan gaji yang didapat dari jabatan tersebut. Status masing - masing perawat tergantung pada posisi dari

departemen kesehatan dalam tabel organisasi unit kerjanya. Status sebuah dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok. Kebanyakan perawat percaya bahwa tujuan kelompok dikaitkan dengan kemampuannya dalam mendapatkan sumber daya yang keperawatan bagi perawatan klien dan kesembuhannya sama pentingnya dengan kesejahteraan klien seperti juga dengantujuan pengobatan medis atau tujuan administrasi keuangannya.
d.     Wewenang

Konsep wewenang secara berbelit - belit dihubungkan dengan konsep tanggung jawab. Jabatan pada hierarki keperawatan puncak dihubungkan dengan lapisan atas dari tanggung jawab dan wewenang. Jadi status yang tinggi dihubungkan dengan wewenang yang memberi status pekerjaan tinggi bagaimanapun dapat diserahkan pada jabatan di lapisan rendah struktur organisasi.
e.        Kepusatan ( Centrality )

Konsep sentralisasi / kepusatan organisasi mengacu pada kenyataan bahwa beberapa jabatan ditempatkan sedemikian rupa dalam struktur organisasi sehingga melibatkan si pemegang jabatan ke dalam seringnya komunikasi dengan sejumlah besar pekerja lainnya. Sebaliknya, jabatan lainnya ditempatkan sedemikian rupa sehingga terjadi sedikit komunikasi di antara pemegang jabatan dengan yang lainnya. Dengan menggunakan skema organisasi lembaga tersebut, adalah mungkin untuk menghitung jumlah langkah atau  pertukaran pembicaraan yang diperlukan guna menyampaikan informasi kepada jabatan yang diberikan dari setiap posisi lain dalam jaringan kerja tersebut. Jumlah langkah bagi orang atau jabatan tertentu disebut total jarak organisasi.

Penambahan jarak perseorangan bagi semua pegawai dalam organisasi dan membaginya dengan jumlah pegawai akan menghasilkan jarak rata - rata organisasi (Average organizational distance) bagi semua jabatan dalam struktur itu. Dengan membandingkan total jarak organisasi seseorang dengan jarak rata - rata bagi seluruh struktur, seseorang dapat menentukan setiap jarak relatif organisasi ( Relative organizational distance ) pegawai. Para pegawai dengan jarak relatif organisasi yang terkecil adalah yang paling pokok dalam struktur tersebut. Mereka lebih banyak menerima informasi yang berhubungan dengan kerja di banding pekerja pokok. Terhadap pekerja yang berpengetahuan, informasi adalah bahan mentah untuk produksi. Karena pekerja yang lebih terpusat secara organisasi seharusnya lebih produktif dibanding pekerja yang kurang terpusat.
f.      Komunikasi ( Communication )

Semua pekerjaan dalam sebuah kelompok manusia dilakukan melalui dan karena komunikasi antar pekerja. Komunikasi biasa diartikan sebagai pengiriman informasi dan opini antar manusia. Diperlukan pendahuluan pesan oleh si pengirim dan persepsi pesan yang sama oleh si penerima pesan. Kebanyakan ahli komunikasi percaya bahwa penangkapan pesan tersebut merupakan aspek yang lebih kritis dari proses dan usaha memperbaiki kualitas serta akurasi komunikasi sebaiknya dimulai dengan mengajari manusia bagaimana mendengar secara bersungguh - sungguh dan kritis terhadap semua aspek pesan yang dikirim. Adalah mungkin untuk melatih pengirim pesan agar mengatur, mengulang, dan merangkum informasi sehingga memaksimalkan pengertian oleh si penerima pesan. Pengirim pesan dapat diajari memperkuat isi verbal setiap pesan dengan ekspresi yang sesuai dan gerak isyarat untuk

menekankan konsep kunci serta untuk mendapatkan masukan dari si penerima pesan sebagai tanda atas keefektifan komunikasi.
2.2.4     Prinsip - prinsip pengorganisasian

Untuk mencapai tujuan dalam pengorganisasian diperlukan prinsip - prinsip sebagai berikut :
1.          Prinsip rantai komando

Rantai komando menyatakan bahwa untuk memuaskan anggota, efektif secara ekonomis dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka, organisasi dibuat dengan hubungan hierarkis dalam alur autoritas dari atas ke bawah. Prinsip ini mendukung struktur mekanistis dengan autoritas sentral yang mensejajarkan autoritas dan tanggung jawab. Komunikasi terjadi sepanjang rantai komando dan cenderung satu arah ke bawah. Pada organisasi keperawatan modern, rantai komando ini adalah datar, dengan garis menejer dan staf teknis serta administrasi yang mendukung stap perawat teknis.
2.          Prinsip kesatuan komando

Kesatuan komando menyatakan bahwa seorang pekerja mempunyai satu penyelia dan terdapat satu pimpinan dan satu rencana untuk kelompok aktifitas dengan obyektif yang sama. Prinsip ini masih diikuti pada kebanyakan organisasi keperawatan tetapi masih terus dimodifikasi dengan memunculkan teori organisasi. Keperawatan primer dan manajemen kasus mendukung prinsip kesatuan komando ini, seperti juga praktek bersama.

3.          Prinsip rentang kontrol

Rentang kontrol menyatakan bahwa individu harus menjadi penyelia suatu kelompok bahwa ia dapat mengawasi secara efektif dalam hal jumlah, fungsi, dan geografi. Prinsip asal ini telah menjadi elastis makin sangat terlatih  pekerja makin kurang pengawasan yang diperlukan. Pekerja dalam masa latihan memerlukan lebih banyak pengawasan untuk mencegah terjadinya kesalahan. Bila digunakan tingkat yang berbeda dari pekerja keperawatan, menejer perawat harus lebih banyak mengkoordinasikan.
4.          Prinsip spesialisasi

Spesialisasi menyatakan bahwa setiap orang harus dapat menampilkan satu fungsi kepemimpinan tunggal. Sehingga ada divisi tenaga kerja : suatu perbedaan di antara berbagai tugas. Spesialisasi dianggap oleh kebanyakan orang menjadi cara terbaik untuk menggunakan individu dan kelompok.  Rantai komando menggabungkan kelompok -kelompok dengan spesialitas yang menimbulkan fungsi departementalis.
5.          Prinsip pembagian kerja

Merupakan perincian dan pengelompokan aktifitas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain yang dilakukan oleh suatu bagian atau unit kerja tertentu. Prinsip dasarnya adalah untuk mencapai efisiensi pelaksanaan kerja dimana orang mengerjakan kegiatan tertentu sesuai dengan kemampuannya. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam pembagian kerja adalah :
1.                 Setiap unit kerja mempunyai perincian tugas dan aktifitas yang akan dilakukan, secara jelas dan tegas.

2.                 Setiap staf atau anggota organisasi harus memiliki perincian tugas, tanggung jawab dan wewenang.
3.                 Beban tugas yang diberikan kepada staf atau unit organisasi harus sesuai dengan kemampuan.
4.                 Variasi tugas yang diberikan hendaknya diusahakan yang sejenis atau erat hubungannya satu sama yang lain.
5.                 Penempatan staf harus tepat dan sesuai.

6.                 Penambahan atau pengurangan tenaga harus berdasarkan beban kerja.

Dalam pembagian kerja ada beberapa dasar yang perlu diperhatikan yang dapat dipakai sebagai pedoman :
1.   Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya koordinator perawatan yang berada di lantai dua rumah sakit yang terdiri dari ruang penyakit dalam kelas dua, ruang bedah umum kelas dua, dan sebagainya.
2.   Pembagian kerja atas jenis barang atau jasa yang diproduksi. Misalnya koordinator asuhan keperawatan ruang unit bedah, koordinator pendidikan keperawatan, koordinator pengendalian mutu pelayanan keperawatan.
3.   Pembagian kerja berdasarkan waktu / shift pagi, siang, dan malam.

4.   Pembagian atas dasar konsumer yang dilayani, misalnya perawat yang khusus merawat klien dengan penyakit kulit, THT, dan lain - lain.
5.   Prinsip pendelegasian

Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang atau kekuasaan. Kekuasaan merupakan hak seseorang untuk mengambil tindakan yang perlu agar tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan dengan baik. Wewenang atau kekuasaan itu terdiri dari berbagai aspek antara lain wewenang mengambil keputusan , menggunakan sumber daya,

memerintah, dan menggunakan batas waktu tertentu. Adapun manfaat pendelegasian adalah Pimpinan dapat melakukan tugas pokok saja, Setiap staf atau perawat memiliki wewenang sesuai dengan tugasnya, Meningkatkan kemampuan staf, Kegiatan tetap berjalan walaupun pimpinan tidak ada, Pelatihan dan kaderisasi untuk meningkatkan jenjang karir.
Dalam melakukan pendelegasian seorang pimpinan hendaknya memperhatikan kemampuan orang yang diberi wewenang atau pendelegasian, memperhatikan pendapat orang yang diberi wewenang, melakukan bimbingan, menggerakkan dan melakukan pengontrolan.
Prinsip - prinsip organisasi yang telah disebutkan di atas adalah saling ketergantungan dan dinamis bila digunakan oleh manajer perawat untuk menciptakan lingkungan yang merangsang dalam praktek keperawatan klinis.
Dalam keperawatan, pengorganisasian pelayanan keperawatan dilaksanakan dengan cara ( Burgess 1988 & Gillies 1988 ) :
1.          Fungsional / penugasan Yaitu pembagian tugas untuk perawat yang dilakukan oleh kepala ruangan masing - masing mempunyai tugas khusus.
2.          Alokasi pasien Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan untuk beberapa klien / satu klien oleh satu perawat saat berjaga.
3.          Perawatan group / team nursing Yaitu pelayanan lapangan dimana sekelompok perawat memberikan pelayanan keperawatan kepada sekelompok klien, kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijasah dan berpengalaman.
4.          Pelayanan keperawatan utama Yaitu pengorganisasian dalam pelayanan keperawatan sehingga satu orang primary nursing dalam 24 jam bertanggung

jawab pada klien yang di bawah tanggung jawabnya dari masuk RS sampai pulang
2.2.4   Struktur organisasi Rumah Sakit di Indonesia

Struktur organisasi rumah sakit dan lembaga - lembaga yang berkaitan dengan rumah sakit tidak dapat digambarkan secara seragam. Tetapi beberapa hal tentang struktur organisasi tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :
a.      Struktur organisasi Depkes RI

b.     Kaitan organisasi RSUD dengan Depkes RI dan Depdagri

c.      Organisasi RS Swasta

d.     RS Pemerintah

Struktur organisasi dan tata kerja RSU pemerintah diatur dalam SK Menkes RI No. 134 / Menkes / SK / IV/ 78 tahun 1978 yang berlaku untuk RS Umum kelas A, B, dan C yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Rincian tugas :

a.        Direktur rumah sakit mempunyai tugas : memimpin, mengawasi, dan mengkoordinasikan tugas - tugas rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang - undangan yang berlaku.
Direktur rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh :

-                     Unsur bantuan kepemimpinan : para wakil direktur

-                     Unsur bantuan administrasi : kepala bagian sekretariat

-                     Unsur bantuan pelaksanaan fungsional : para kepala bidang

-                     Unsur bantuan pelaksanaan keuangan : bidang keuangan

-                     Unsur bantuan fungsional : kepala unit pelaksana fungsional.

Bagian sekretariat mempunyai tugas :

-                     Mempersiapkan dan menyusun program laporan mengenai kegiatan semua satuan organisasi dalam lingkungan RS
-                     Melakukan pengelolaan pegawai urusan ketata – usahaan

-                     Melakukan ketata - usahaan penderita rawat inap

-                     Melaksanakan pencatatan medis

-                     Instalasi

Bertugas sebagai penunjang UPF, yang meliputi :

-                     Farmasi

-                     Patologi

-                     Laboratorium

-                     Gizi

-                     Pemeliharaan RS

-                     Kamar jenasah

-                     Unit pelaksana fungsional

Melakukan usaha pelayanan kesehatan :

a.          Promotif

b.          Preventif

c.          Kuratif

d.          Rehabilitatif

e.          Rujukan

f.           Bidang – bidang

Bidang penunjang medis : mengkoordinasikan seluruh kebutuhan

a.          Unit - unit :     unit anestesi dan perawatan intensif

b.          unit pelayanan darurat medis

c.          unit radiologi

d.          unit pelayanan rehabilitasi

e.          Instalasi

Bidang pelayanan medis : mengkoordinasikan seluruh unit pelaksana fungsional yang langsung atau tidak langsung memperlancar kegiatan pelayanan kegiatan pada UPF.
Bidang pendidikan dan latihan mempunyai tugas :

1)     Mengatur dan mengkoordinasikan pendidikan dan latihan dokter, dokter ahli, dan paramedis.
2)     Melaksanakan penataran medis dan paramedis dalam rangka sistem rujukan.

3)     Melaksanakan kegiatan perpustakaan Bidang keuangan mempunyai tugas :
1)     Mempersiapkan dan menyusun anggaran pendapatan dan belanja, pertanggung jawaban keuangan .
2)     Melakukan tata usaha keuangan, pengelolaan bendahara.

3)     Pengelolaan    penerimaan,    pembukuan    penyetoran    ke    kas    negara    dan pertanggung jawaban keuangan yang diperoleh dari pelayanan RS.

2.3       Perbedaan Budaya dan Iklim Organisasi

2.3.1        Pengertian Budaya Organisasi

Menurut Edgar H. Schein dalam Umam (2010) berpendapat bahwa “budaya adalah suatu pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan, atau dikembangkan oleh kelompok tertentu sebagai pembelajaran untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal yang resmi dan terlaksana dengan baik”. Oleh karena itu, budaya diajarkan (diwariskan) kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat memahami, memikirkan, dan merasakan terkait masalah-masalah tersebut.
Gibson, Ivancevich dan Donelly (1996) mendefinisikan organisasi sebagai “wadah yang memungkinkan masyarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya tidak dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri”. Lebih jauh, ketiganya menyebutkan bahwa organisasi adalah suatu unit terkoordinasi yang terdiri setidaknya dua orang yang berfungsi mencapai satu sasaran tertentu atau serangkaian sasaran. Definisi ini menekankan pada upaya pencapaian tujuan bersama secara efektif dan efisien melalui koordinasi antar unit organisasi.
Budaya organisasi mengacu pada norma prilaku, asumsi, dan keyakinan dari suatu organisasi, sementara dalam iklim organisasi mengacu pada persepsi orang-orang dalam organisasi yang merefleksikan norma-norma, asumsi-asumsi dan keyakinan (Owens, 1991). Sedangkan Sonhadji dalam Soetopo (2010) mengatakan bahwa budaya organisasi adalah proses sosialisasi anggota organisasi untuk mengembangkan persepsi, nilai dan keyakinan terhadap organisasi untuk mengembangkan persepsi, nilai, dan keyakinan terhadap organisasi. Sementara Soetopo (2010) mengatakan bahwa budaya organisasi berkenaan dengan keyakinan, asumsi, nilai, norma-norma prilaku, ideology, sikap, kebiasaan dan

harapan-harapan yang dimiliki oleh organisasi (dalam hal ini termasuk organisasi universitas swasta).


2.3.2        Iklim Organisasi

Owens (1991) menyatakan bahwa “organizational climate is the study of perceptions that individual have of various aspect of the environment in the organization”. Dengan demikian pengkajian iklim organisasi dapat dilakukan dengan menggali data dari persepsi individu yang ada dalam organisasi. Taguiri dan Litwin dalam Soetopo (2010) mengartikan iklim organisasi adalah suatu kualitas lingkungan internal organisasi yang dialami oleh anggotanya, mempengaruhi prilakunya dan dapat dideskripsikan dengan nilai-nilai karakteristik organisasi. Dengan penegrtian ini, Miner (1998) menyarikan aspek- aspek definisi iklim organisasi sebagai berikut :
a.           Iklim organisasi berkaitan dengan unit yang besar yang mengandung cirri karakteristik tertentu.
b.          Iklim organisasi lebih mendiskripsikan suatu unit organisasi daripada menilainya.
c.           Iklim organisasi berasal dari praktik organisasi, dan

d.          Iklim organiasasi mempengaruhi prilaku dan sikap aggota organisasi.


Dalam kaitannya dengan iklim organisasi, Steers dalam Soetopo (2010) menyatakan bahwa iklim organisasi dapat dilihat dari dua sisi pandang yaitu (1) iklim organisasi dilihat dari persepsi para anggota terhadap organisasinya, (2) iklim organisasi dilihat dari hubungan antara kegiatan-kegiatan organisasi dan perilaku manajemennya.

2.3.3          Perbedaan Budaya dan Iklim Organisasi Komponen-Komponen Budaya Organisasi
Robbins dalam Soetopo (2010) mengemukakan tujuh karakteristik budaya organisasi yaitu :
a.               Otonomi individu yaitu kadar kebebasan, tanggung jawab dan kesempatan individu untuk berinisiatif dalam organisasi
b.               Struktur yaitu kadar peraturan dan ketetapan yang digunakan untuk mengontrol prilaku pegawai
c.               Dukungan yaitu kadar bantuan dan keramahan manajer kepada pegawai

d.               Identitas yaitu kadar kenalnya anggota terhadap organisasinya secara keseluruhan, terutama informasi kelompok kerja dan keahlian profesionalnya
e.               Hadiah performansi yaitu kadar alokasi hadiah yang didasarkan pada criteria performansi pegawai
f.  Toleransi konflik yaitu kadar konflik dalam hubungan antar sejawat dan kemauan untuk jujur dan terbuka terhadap perbedaan
g.               Toleransi resiko yaitu kadar dorongan terhadap pegawai untuk agresif, inovatif dan berani menanggung resiko.
Halpin sebagaimana dikutip Soetopo (2010) membagi komponen iklim organisasi berdasarkan karakteristik kelompok sebagai berikut :

a.                                Disengagement atau ketidakikutsertaan, yaitu suatu kadar dimana staf atau bawahan cenderung tidak terlibat dan tidak commite terhadap pencapaian tujuan organisasi.

b.                               Hindrance atau halangan, yaitu mengacu pada perasaan para staf bahwa pimpinan membebani mereka dengan tugas yang memberatkan pekerjaan mereka.
c.                                Esprit atau semangat, yaitu mengacu pada semangat kerja karena terpenuhinya kebutuhan social dan rasa punya prestasi dalam pekerjaan.
d.                               Intimacy atau keintiman, yaitu kadar kekohesifan antar staf dalam organisasi.
2.4           Implementasi Pengorganisasian Keperawatan di Ruang Rawat dan Puskesmas

2.4.1   Impementasi Pengorganisasian

a.               Menjelaskan tujuan pengorganisasian tim keperawatan

b.               Membagi pekerjaan sesuai tingkat ketergantungan pasien

c.               Membuat rincian tugas anggota tim dalam keperawatan

d.               Mampu mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan bersama tim kesehatan lain

e.               Mengatur waktu istirahat anggota tim

f.                Mendelegasikan proses asuhan keperawatan pada anggota tim

g.               Melakukan pelaporan dan mendokumentasian

2.4.2   Struktur Organisasi Keperawatan di Ruang Rawat

Kepala ruangan bertanggung jawab untuk mengorganisasi kegiatan asuhan keperawatan di unit kerjanya untuk mencapai tujuan pengorganisasian, pelayanan keperawatan di ruangan meliputi :

a.        Struktur Organisasi

Struktur organisai ruang rawat terdiri dari struktur bentuk dan bagan. Berbagai struktur, bentuk dan bagan dapat digunakan tergantung pada besarnya organisasi dan tujuan yang ingin dicapai. Ruang rawat sebagi wadah dan pusat kegiatan pelayanan keperawatan perlu memiliki struktur organisasi tetapi ruang rawat tidak termasuk dalam struktur organisasi rumah sakit bila dilihat dari surat keputusan menteri Kesehatan no. 134 dan 135 tahun 1978. oleh karena itu direktur rumah sakit perlu menerbitkan surat keputusan yang ngatur struktur organisasi ruang rawat.

Berdasarkan surat keputusan direktur tersebut dibuat struktur organisasi ruang rawat untuk menggambarkan pola hubungan antar bagian atau staf atasan baik vertikal maupun horizontal. Dapat juga dilihat posisi tiap bagian, wewenang dan tanggung jawab serta tanggung gugat. Bentuk organisasi dapat pula disesuaikan dengan pengelompokkan kegiatan atau sistem penugasan yang digunakan.

b.        Pengelompokkan Kegiatan

Setiap organisasi memiliki serangkaian tugas atau kegiatan yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan. Kegiatan perlu dikumpulkan sesuai dengan spesifikasi tertentu. Pengorganisasian kegiatan dilakukan untuk memudahkan pembagian tugas pada perawat sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan dimiliki peserta sesuai dengan kebutuhan klien pengorganisasian tugas perawat ini disebut metode penugasan.

Keperawatan diberikan karena ketidakmampuan, ketidaktahuan dan ketidakmampuan klien dalam melakukan aktifitas untuk dirinya dalam upaya mencapai derajat kesehatan yang optimal. Setiap kegiatan keperawatan diarahkan kepada pencapaian tujuan dan merupakan tugas menejer keperawatan untuk selalu mengkoordinasi, mengarahkan dan mengendalikan proses pencapaian tujuan melalui interaksi, komunikasi, integrasi pekerjaan diantara staf keperawatan yang terlibat.

Dalam upaya mecapai tujuan tersebut meneger keperawatan dalam hal ini kepala ruangan bertanggung jawab mengorganisir tenaga keperawatan  yang ada dan kegiatan pelayanan keperawatan yang akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan klien, sehingga kepala ruangan perlu mengkatagorikan klien yang ada diunit kerjanya. Menurut Kron (1987) kategori  klien didasarkan atas : Tingkat pelayanan keperawatan yang dibutuhkan klien, misalnya keperawatan mandiri, minimal, sebagian, total atau intensif. Usia misalnya anak, dewasa, usia lanjut. Diagnosa/masalah kesehatan yang dialami klien misalnya perawatan bedah/ortopedi, kulit. Terapi yang dilakukan, misalnya rehabilitas, kemoterapi. Dibeberapa rumah sakit ini pengelompokkan klien didasarkan atas kombinasi kategori diatas.

Selanjutnya kepala ruangan bertanggung jawab menetapkan metode penyusunan keperwatan apa yang tepat digunakan di unit kerjanya untuk mencapai tujuan sesuai dengan jumlah katagori tenaga yang ada di ruangan serta jumlah klien yang menjadi tanggung jawabnya.

c.        Tugas Perawat di Ruang Rawat

A.    TANGGUNG JAWAB
Dalam melaksanakan tugasnya perawat pelaksana di ruang rawat inap bertanggung jawab kepada kepala Ruangan / Kepala Instalasi terhadap hal hal sebagai berikut :
1.  Kebenaran dan ketepatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai standar.
2.  Kebenaran dan ketepatan dalam mendokumentasikan pelaksanaan asuhan keperawatan / kegiatan lain yang dilakukan

B.    WEWENANG
Dalam melaksanakan tugasnya, perawat pelaksana diruang rawat inap mempunyai wewenang sebagai berikut :
1.  Meminta informasi dan petunjuk kepada atasan.
2.  Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien / keluarga pasien sesuai kemampuan dan batas kewenangannya.

C.    URAIAN TUGAS
1.   Memelihara kebersihan ruang rawat dan lingkungannya, menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
2.   Memelihara peralatan keperawatan dan medis agar selalu dalam keadaan siap pakai.
3.   Melakukan    pengkajian    keperawatan   dan   menentukan    diagnosa keperawatan sesuai batas kewenangannya.
4.   Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan kemampuannya.
5.   Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien sesuai kebutuhan dan batas kemampuannya, antara lain :
a.      Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai program pengobatan.
b.     Memberi penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakitnya.
6.   Melatih / membantu pasien untuk melakukan latihan gerak.
7.   Melakukan tindakan darurat kepada pasien ( antara lain panas tinggi, kolaps, pendarahan, keracunan, henti nafas dan henti jantung ), sesuai Protap yang berlaku. Selanjutnya segera melaporkan tindakan yang telah dilakukan kepada dokter ruang rawat inap / dokter jaga.
8.   Melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan sesuai batas kemampuannya.
9.   Mengobservasi kondisi pasien, selanjutnya melakukan tindakan yang tepat berdasarkan hasil observasi tersebut, sesuai batas kemampuannya.
10.  Berperan serta dengan anggota tim kesehatan dalam membahas kasus dan upaya meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

11.  Melaksanakan tugas pagi, sore, malam dan hari libur secara bergilir sesuai jadwal dinas.
12.  Mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh Kepala Ruang Rawat Inap.
13.  Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dibidang keperawatan, antara lain melalui pertemuan ilmiah dan penataran atas izin/ persetujuan atasan.
14.  Melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan yang tepat dan benar sesuai Standar Asuhan Keperawatan.
15.  Melaksanakan serah terima tugas kepada petugas pengganti secara lisan maupun tertulis, pada saat penggantian dinas.
16.  Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pasien mengenai :
·           Program diet.
·           Pengobatan yang perlu dilanjutkan dan cara penggunaannya.
·           Pentingnya pemeriksaan ulang di rumah sakit, puskesmas atau institusi kesehatan ini.
·           Cara hidup sehat, seperti pengaturan istirahat, makanan yang bergizi atau bahan pengganti sesuai dengan keadaan sosial ekonomi.
17.  Melatih pasien menggunakan alat bantu yang dibutuhkan, seperti : Rollstel, Tongkat penyangga, Protesa.
18.  Melatih pasien untuk melaksanakan tindakan keperawatan di rumah misalnya : Merawat luka, Melatih anggota gerak
19.  Menyiapkan pasien yang akan pulang, meliputi :
Menyediakan formulir untuk penyelesain administratif , seperti : Surat ijin pulang, Surat keterangan istirahat sakit, Petunjuk diet, Resep obat untuk dirumah, jika diperlukan, Surat rujukan atau pemeriksaan ulang dan lain-lain.

BAB III PENUTUP


3.1  Kesimpulan

Managemen adalah suatu proses merancang dan memelihara suatu lingkungan dimana orang-orang yang bekerja sama didalam suatu kelompok dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan seefisien mungkin (Suarli dan Subakhtiar, 2009). Menegemen keperawatan adalah satu proses bekerja melalui anggota staf  keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Nursalam, 2013). Fungsi manajemen keperawatan sejalan dengan fungsi manajemen secara umum yaitu pengorganisasian, perencanaan, kepemimpinan, dan pengawasan (Suarli dan Bahtiar, 2009).


3.2  Saran

Setelah membaca makalah ini, diharapkan para pembaca dapat memahami dan mengerti akan isi dan maksud dari judul tersebut diatas. Para pembaca bisa mendapatkkan pelajaran serta dapat menambah wawasan mengenai Managemen Keperawatan

DAFTAR PUSTAKA




1.        Gillies, D. A. ( 1989 ). Nursing Management, A System Approach.WB Saunders

2.        Company. Philadelphia.

3.        Prayitno, Subur. ( 1997 ). Dasar - dasar administrasi kesehatan masyarakat. Airlangga University Press. Surabaya.
4.        Prayitno, Subur. ( 2000 ). Administrasi Rumah Sakit di Indonesia. FKUA. Surabaya.

5.        Sullivan, E.J.et al. ( 1990 ). Management and Leadership for Nurse Manager. Jones and Barlett Publisher. Boston.
6.        Swanburg, C Russel. ( 2000 ). Pengantar Kepemimpinan dan Manjemen Untuk Perawat Klinis. EGC. Jakarta
7.        Dasar-dasar organisasi / oleh Sutarto - Cet.18 - Yogyakarta Gajah Mada University Press, 1998
8.        Makmur, H. 2007. Patologi Serta Terapinya dalam Ilmu Administrasi dan Organisasi.

Bandung : PT. Refika Aditama

9.        Atmosudirdjo, Prayudi. (1999).Desain Serta Struktur Organisasi. Jakarta: STIA, LAN Press.

PENGORGANISASIAN

TUGAS MANAGEMENT “PENGORGANISASIAN” Disusun Oleh : 1.    MARIA ULFA LISTIA...