Selasa, 07 April 2020

MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN


MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN







DISUSUN OLEH KELOMPOK 1



1.    ARTANTI
(2016030001)
2.    MICHAEL R LIUNOKAS
(2016030006)
3.    SONYA DWI ALFITRIYANI
(2016030009)
4.    YOSEPH COPERTINO T
(2016030012)
5.    GILBERTH MAURITS S
(2016030029)
6.    SARCE WAGAREFE
(2016030033)
7.    MARYANI VILADELVIA B
(2016030195)
8.    RONA J NENOBAIS
(2016030037)
9.    ELMIADINI NURRIMA FITRI
(2016030137)
10. SRI WULANDARI
(2016030174)
11. SITI ROHMANI
(2016030146)
12. SITI QOMARIYAH NURNAFIK
(2016030140)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN
2020

KATA PENGANTAR



Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tepat pada waktunya. Makalah ini berjudul “MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN”.
Makalah ini penulis buat sebagai salah satu syarat tugas mata kuliah Manajemen Keperawatan.
Dalam proses pembuatan makalah ini penulis banyak menemui kesulitan dalam menjabarkan materi dan penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini ke depan.


Jombang, 10 April 2020



Tim Penulis

DAFTAR ISI

3.1.  Kesimpulan.......................................................................................................... 24
3.2.  Saran.................................................................................................................... 24

BAB I PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang

Manajemen pelayanan keperawatan sebagai sub sistem manajemen rumah sakit harus memperoleh tempat dan perhatian sama dengan manajemen lainnya, sehingga rumah sakit dapat berfungsi sebagaimana diharapkan.Lingkup manajemen operasional dan manajemen asuhan keperawatan yaitu merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengawasi sumber daya keperawatan. Fungsi-fungsi manajemen keperawatan adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, yang harus dilakukan oleh manajer dalam bentuk supervisi. Supervisi yang dilakukan oleh manajer keperawatan secara baik dan terus menerus dapat memastikan pemberian asuhan  keperawatan sesuai dengan standar praktek keperawatan (Depkes RI, 1994). Dengan supervisi kepala ruangan sebagai manajer dapat mempengaruhi kinerja perawat pelaksana.

1.2.  Rumusan Masalah

1.         Apa teori, konsep dan prinsip dasar kepemimpinan manajemen keperawatan?
2.         Apa fungsi, peran dan tanggung jawab manajer keperawatan?
3.         Apa gaya kepemimpinan : perbedaan dan penggunaannya?
4.         Apa penerapan teori, konsep dan prinsip kepemimpinan manajemen diruang rawat dan puskesmas?

1.3.  Tujuan Penulisan

1.         Mengetahui  teori,    konsep dan prinsip      dasar    kepemimpinan manajemen keperawatan
2.         Mengetahui fungsi, peran dan tanggung jawab manajer keperawatan
3.         Mengetahui gaya kepemimpinan : perbedaan dan penggunaannya
4.         Mengetahui penerapan teori, konsep dan prinsip kepemimpinan manajemen diruang rawat dan puskesmas

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1.  Teori, Konsep Dan Prinsip Dasar Kepemimpinan Manajemen Keperawatan

A.  Teori Kepemimpinan Manajemen Keperawatan
Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang lain  untuk melaksanakan tugas-tugas organisasi secara suka rela (Fairholm, 1991; Gardner, 2000). Bahkan menurut Gemmil dan Oakley (1992) kepemimpinan adalah sebuah proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode baru untuk meningkatkan kualitas organisasi. Fulan (2000, hal. 3) mengatakan bahwa “leadership is a process of persuasion or example by which an individual (or leadership team) induce the group to pursue objectives shared by the leaders and his or her followers”. Fulan berpendapat bahwa kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi anggota organisasi lainnya untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan oleh pemimpin dan anggota organisasi lainnya. Ini artinya bahwa kepemimpinan bukan hanya didefinisikan dari sudut jabatan, tapi lebih tepatnya, kepemimpinan ini adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain tanpa paksaan untuk mencapai sesuatu yang sudah dirumuskan sebelumnya oleh anggota organisasi.
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :

1.   Teori Sifat

Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri  yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai  sifat, perangai atau ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Ghizeli dan Stogdil:
1.        Kecerdasan
2.        Kemampuan mengawasi

3.        Inisiatif
4.        Ketenangan diri
5.        Kepribadian
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain: terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagaio rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin, justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
v  Kecerdasan
v  Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
v  Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
v  Sikap Hubungan Kemanusiaan
Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil sangat ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Karena itu, timbul usaha dari para ahli untuk meneliti dan merinci kualitas seorang pemimpin yang berhasil melaksanakan tugas kepemimpinannya, kemudian hasilnya diformulasikan ke dalam sifat-sifat umum seorang pemimpin. Usaha tersebut berkembang menjadi teori kepemimpinan yang disebut “teori sifat kepemimpinan” (Robbins, at.al., 1994: 469).
Text Box: Teori Sifat atau Pembawaan
(Sumber: Diadaptasi dari Chapter Seventeen, Leadership, 2001, The McGraw-Hill Company, Inc.)
Bakat-bakat kepemimpinan: merepresentasikan karakteristik personal yang membedakan para pemimpin dari bawahannya.
• Temuan historis menunjukkan bahwa pemimpin dan bawahan dibedakan berdasarkan:
- Intelijensi
- Dominasi
- Kepercayaan diri

Text Box: - Tingkat energi dan aktivitas
- Pengetahuan yang relevan dengan tugas
• Temuan kontemporer menunjukkan bahwa:
- Orang cenderung mempersepsikan seseorang selaku pemimpin ketika menunjukkan bakat yang berhubungan dengan intelijensi, maskulinitas dan dominasi
- Orang mengharapkan pemimpin tersebut menjadi kredibel
- Pemimpin yang kredibel adalah pemimpin yang jujur, berpandangan jauh ke depan dan cakap.

Teori Lahirnya Pemimpin :
Ø  TEORI GENETIK
Seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena ia dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.
Pemimpin itu dilahirkan (Leaders are born)
Ø  TEORI SOSIAL
Siapapun dapat ditempa menjadi pemimpin yang efektif, melalui berbagai pendidikan dan pelatihan kepemimpinan.
Pemimpin itu dibentuk (Leaders are made)
Ø  TEORI EKOLOGIS
Seorang bisa muncul sebagai pemimpin yg efektif bila dilandasi bakat yg dibawa sejak lahir serta diberi kesempatan menduduki jabatan pimpinan dan kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan.
(Leader are born and made)


2.   Teori Perilaku

Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok kearah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pimpinan mempunyai deskripsi perilaku:

·           Konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki cirri ramah tamah, mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Disamping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih meningkatkan tugas organisasi.
·           Berorientasi kepada bawahan dan produksi
Perilaku pemimpin yang berorientasi kepada baawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continum pada dasasrnya ada dua yaitu berorientasi pada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan atau hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF. Soner, 1978: 442-443).
Tingkah laku pemimpin lebih terkait dengan proses kepemimpinan. Karena itu, ada dua dimensi utama kepemimpinan yang dikenal dengan nama konsiderasi dan struktur inisiasi. Dua macam kecenderungan perilaku kepemimpinan tersebut pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan.

Text Box: Teori Gaya Keperilakuan
(Sumber: Diadaptasi dari Chapter Seventeen, Leadership, 2001, The McGraw-Hill Company, Inc.)
• Studi Ohio State University mengidentifikasi dua dimensi penting perilaku pemimpin
(1) Konsiderasi: menciptakan respek dan kepercayaan timbal-balik dengan bawahan
(2) Inisiasi struktur: mengorganisir dan meredefinisi apa-apa yang akan dikerjakan oleh anggota kelompok
• Studi Michigan University mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yang sama dengan studi yang dilakukan oleh Ohio State University.
= salah satu gaya terfokus pada pekerja dan gaya yang satunya terfokus pada pekerjaan
• Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik. Efektivitas gaya kepemimpinan tertentu tergantung pada situasi di mana gaya tersebut diterapkan.

Berdasarkan tabel di atas dapat dipahami bahwa perilaku pemimpin yang efektif melakukan konsiderasi tergantung pada aspek berikut:
·           Kepuasan pengikut terhadap pemimpin tergantung pada derajat konsiderasi yang ditunjukkan oleh pemimpin.
·           Konsiderasi pemimpin lebih berpengaruh terhadap pengikut ketika pekerjaan tidak menyenangkan dan mendesak, dari pada ketika pekerjaan menyenangkan dan tidak mendesak.
·           Pemimpin yang menunjukkan konsiderasi dapat melakukan inisiasi struktur yang lebih banyak tanpa mengurangi kepuasan pengikutnya.
·           Konsiderasi yang diberikan sebagai respons terhadap kinerja yang baik akan meningkatkan kemungkinan kinerja yang baik di masa depan.

Sedangkan perilaku pemimpin yang efektif melakukan inisiasi struktur adalah:
·           Inisiasi     struktur    yang    memperjelas     peran    tambahan    akan meningkatkan kepuasan.
·           Inisiasi struktur akan menyurutkan kepuasan pengikut ketika struktur tersebut sudah tersedia.
·           Inisiasi struktur akan meningkatkan kinerja ketika tugas tidak jelas.
·           Inisiasi struktur tidak akan mempengaruhi kinerja ketika tugas jelas (Leadership, 2001: 2).
Uraian di atas memperjelas bahwa teori kepemimpinan perilaku mencoba menjelaskan keunikan gaya yang digunakan oleh pemimpin yang efektif, atau memahami sifat-sifat pekerjaan pemimpin. Sepuluh peran manajerial dari Henry Minzberg merupakan salah satu contoh teori kepemimpinan perilaku. Peneliti perilaku menekankan pada penemuan cara mengklasifikasikan perilaku yang dapat memberikan pemahanan mengenai kepemimpinan.

3.   Teori Situasional

Keberhasilan seorang pimpinan menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan factor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah:
·           Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas
·           Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan
·           Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan
·           Norma yang dianut kelompok
·           Rentang kendali
·           Ancaman dari luar organisasi
·           Tingkat stress
·           Iklim yang terdapat dalam organisasi
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca”         situasi                        yang        dihadapi                  dan     menyesuaikan      gaya

kepemimpinan agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntunan situasi tersebut. Penyesuaian gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan perilaku tertentu karena tuntunan situasi tertentu.
Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan berikut:

a.        Teori Kontingensi

Teori kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan kelompoknya. Dengan perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin bukan karena sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor situasi dan adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya.
Model Contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967) . Menurut model ini, maka the performance of the group is contingen upon both the motivasional  system of the leader and the degree to which the leader has control and influence in a particular situation, the situational favorableness (Fiedler, 1974:73).
Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.






Pengendalian Situasional
Pengendalian Situasi Tinggi
Pengendalian Situasi Moderat
Pengendalian Situasi Rendah


Hubungan Pemimpin-Anggota


Baik


Baik


Baik


Baik


Buruk


Buruk


Buruk


Buruk

Struktur Tugas

Tinggi

Tinggi

Tinggi

Rendah

Tinggi

Tinggi

Rendah

Rendah
Kekuatan posisi
Kuat
Lemah
Kuat
Lemah
Kuat
Kuat
Kuat
Lemah
Situasi
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII







b.        Teori Normatif

Vroom dan Yetton (1973) mengembangkan model  kepemimpinan normatif dalam 3 kunci utama: metode taksonomi kepemimpinan, atribut-atribut permasalahan, dan pohon keputusan (decision tree). 5 tipe kunci metode kepemimpinan yang teridentifikasi (Vroom & Yetton, 1973):
1)  Autocratic I: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang saat ini terdapat pada pemimpin.
2)  Autocratic II: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang terdapat pada seluruh anggota kelompok tanpa terlebih dahulu menginformasikan tujuan dari penyampaian informasi yang mereka berikan.
3)  Consultative I: berbagi akan masalah yang ada dengan individu yang relevan, mengetahui ide-ide dan saran mereka tanpa melibatkan mereka ke dalam kelompok; lalu membuat keputusan.

4)  Consultative II: berbagi masalah dengan kelompok, mendapatkan ide-ide dan saran mereka saat diskusi kelompok berlangsung, dan kemudian membuat keputusan.
5)  Group II: berbagi masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok, serta menerima dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok.

c.         Teori Siklus Hidup

Konsep dasar teori siklus kehidupan adalah strategi dan perilaku pemimpin harus situasional dan didasarkan pada kedewasaannya dan para pengikutnya. Kedewasaan adalah kemampuan individu atau kelompok dalam menetapkan tujuan tinggi tetapi dapat dicapai, ada kemampuan mereka untuk mengambil tanggung jawab. Perilaku tugas adalah tingkat dimana pemimpin cenderung untuk mengorganisasikan dan menentukan peranan-peranan para pengikut, menjelaskan setiap kegiatan yang dilaksanakan, kapan dan dimana, dan bagaimana tugas diselesaikan.Perilaku Hubungan berkenaan dengan hubungan pribadi pemimpin dengan individu atau para anggota kelompoknya.
Menurut Paul Hersey dan Blachard (1995:34) mengemukakan bahwa hubungan antara pemimpin dengan bawahannya berjalan melalui 4 (empat) tahap menurut perkembangan dan kematangan bawahan yaitu :
1)  Gaya Penjelasan (telling style) yaitu pada saat bawahan pertama kali memasuki organisasi, orientasi tugas yang tinggi dan orientasi hubungan yang rendah paling tepat. Bawahan harus lebih banyak diberi perintah dalam pelaksanaan tugasnya dan diperkenalkan dengan aturan-aturan dan prosedur organisasi.
2)  Gaya Menjual (selling style) yaitu pada tahap ini bawahan mulai mempelajari tugas-tugasnya. Kepemimpinan orientasi tugas yang tinggi masih diperlukan, karena bawahan belum bersedia menerima tanggung jawab yang penuh. Tetapi kepercayaan dan dukungan pemimpin terhadap bawahan dapat meningkat. Di mana pemimpin dapat mulai menggunakan perilaku yang berorientasi hubungan yang tinggi.

3)  Gaya Partisipasi (participating style) yaitu tahap ini kemampuan dan motivasi pestasi bawahan meningkat, dan bawahan secara aktif mulai mencari tanggung jawab yang lebih besar. Di mana perilaku pemimpin adalah orientasi hubungan tinggi dan orientasi tugas rendah.
4)  Gaya Pendelegasian (delegating style) yaitu tahap ini bawahan secara berangsur-angsur menjadi lebih percaya diri, dapat mengarahkan diri sendiri, cukup berpengalaman, dan tanggung jawabnya dapat diandalkan. Di mana gaya pendelegasian yang tepat yaitu orientasi tugas dan hubungan rendah.

d.        Teori Kontinum

Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994) berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut dengan perilaku demokratis.
Perilaku otokratis, pada umumnya dinilai bersifat negatif, di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin, karena pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh, sedangkan bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif, gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan keteraturan bagi bawahan.Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis ini adalah pada tugas.
Perilaku demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini  terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk mencapai tujuan, di mana si pemimpin senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan keputusan kelompok.

e.         Teori Path-Goal

Tokoh-tokoh dari teori ini adalah Georgepoulos (Univ. Michigan), Martin Evans dan Robert House. Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh bawahan. Jalan itu seperti:
·           Mengetahui dan atau menumbuhkan kebutuhan para bawahan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dikontrol pemimpin.
·           Memberikan insentif kepada bawahan yang mampu mencapai hasil dalam bekerja.
·           Membuat jalan yang mudah dilewati bawahan dalam menaikkan prestasinya.
·           Membantu    karyawan    dengan    menjelaskan     apa    yang    dapat diterapkan.
·           Mengurangi halangan yang dapat membuat frustasi.
·           Menaikkan     kesempatan     untuk     pemuasan     karyawan     yang memungkinkan tercapainya efektifitas kerja.
Perhatian utama model ini adalah perilaku pimpinan dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.

B.  Konsep Kepemimpinan Manajemen Keperawatan

Konsep dasar manajemen keperawatan adalah manajemen partisipatif yang berlandaskan kepada paradigma keperawatan yaitu manusia, perawat, kesehatan dan lingkungan dengan merumuskan kerangka konsep menjadi kerangka kerja untuk menunjang praktek keperawatan dan merupakan keyakinan dasar dari tim perawatan.
Manusia dalam manajemen partisipatif adalah individu, keluarga/masyarakat yang diberikan pelayanan keperawatan melalui pelaksanaan tugas keperawatan yang terorganisasi, terarah, terkoordinasi dan terintegrasi dalam rentang kendali yang ditetapkan. Perawat/keperawatan adalah tenaga keperawatan baik tingkat manajerial puncak, menengah, maupun bawah, dan para pelaksana keperawatan yang berada dalam rentang

komunikasi untuk bekerja sama memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar praktek keperawatan.
Aspek kesehatan merupakan kisaran hasil keperawatan yang berorientasi pada beberapa dimensi pelayanan terhadap individu, keluarga, dan masyarakat melalui upaya mencegah, mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan. Aspek lingkungan merupakan area kewenangan dan tanggung jawab keperawatan baik selama pasien berada dalam institusi pelayanan maupun persiapan menjelang pulang. (Agus Kuntoro, hal:20)

C.  Prinsip Dasar Kepemimpinan Manajemen Keperawatan

1.  Manajemen keperawatan selayaknya berlandaskan pada suatu perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
2.  Manajemen keperawatan dapat dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun suatu perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
3.  Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan suatu keputusan. Berbagai situasi maupun suatu permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan suatu kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat manajerial.
4.  Memenuhi suatu kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin yang  paling utama dari seluruh tujuan keperawatan.
5.  Manajemen keperawatan harus bisa terorganisir. Pengorganisasian tersebut dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6.  Pengarahan merupakan suatu elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
7.  Divisi keperawatan yang baik dapat memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.

8.  Manajemen keperawatan dapat menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi yang efektif akan mengurangi suatu kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
9.  Pengembangan staf penting untuk dapat dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat – perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk dapat meningkatkan pengetahuan karyawan.
10.  Pengendalian yakni salah satu elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan sebuah prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan

2.2.  Fungsi, Peran Dan Tanggung Jawab Manajer Keperawatan

A.  Fungsi Manajer Keperawatan
a.         Perencanaan
Adalah suatu proses menetapkan sasaran dan memilih cara untuk sasaran tersebut
b.        Pengorganisasian
Adalah seluruh proses pengelompokan tugas-tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab, penetapan orang dan alat-alat.
c.         Pengarahan
Adalah pengeluaran, penugasan, pesanan dan instruksi.
d.        Pengawasan dan Pengendalian
Suatu proses kegiatan seorang pemimpin untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan organisasi sesuai dengan rencana, kebijaksanaan dan ketentuan yang telah ditetapkan

B.  Peran Manajer Keperawatan

Peran manajer di lingkungan perawatan kesehatan pada saat ini mengalami perubahan yang berarti, dimana organisasi perawat kesehatan ini melakukan desentralisasi fungsi manajemen dan pengorganisasian tiap unit oleh seorang manajer perawatan. Adapun beberapa tanggung jawab yang diberikan kepada perawat manajer ( Potter & Perry, 2005), antara lain tanggung jawab untuk :
1.  Mempekerjakan, mengembangkan dan mengevaluasi stafnya.

2.  Pengembangan anggaran tahunan unit yang dipimpinnya dan memegang kewenangan untuk mengatur unit sesuai dana tersebut.
3.  Memantau kualitas perawatan, menghadapai masalah tenaga kerjanya, dan melakukan hal-hal tersebut dengan biaya yang efektif.
Selanjutnya Potter & Perry (2005), menyatakan bahwa yang harus dilakukan perawat profesional dalam perannya sebagai manajer asuhan keperawatan adalah :
1.        Perencanaan / penetapan tujuan
Membantu pasien dan keluarga dalam merumuskan gambaran mereka tentang kesehatan setelah kembali dari perawatan di rumah sakit
2.        Pengajaran/orientasi
Memahami informasi untuk mendorong fungsi & kesehatan pasien / keluarga
3.        Koordinasi dengan pelayanan
Membantu keluarga dalam pemanfatan pelayanan pendukung (pemuka agama, perawatan di rumah) dan penjadwalan perawatan pasien.
4.        Pengembangan sistem pendukung
Menekankan pada pasien dan keluarga untuk memikirkan tanggung jawab yang lebih besar dalam mempertahankan kesehatannya
5.        Perwalian kelompok atau profesi kerja Aktif berpartisipasi dalam tugas kelompok atau berpartisipasi dalam aktivitas di masyarakat

C.  Tanggung Jawab Manajer Keperawatan

1.  Kepala Ruangan
Dalam melaksanakan tugasnya kepala ruangan bertanggung jawab kepada kepala instalansi terhadap hal-hal sebagai berikut:
a)        Kebenaran dan ketepatan rencana kebutuhan tenaga keperawatan
b)        Kebenaran    dan    ketepatan    progam    pengembangan    pelayanan keperawatan
c)        Keobyektifan dan kebenaran penilaian kinerja tenaga keperawatan
d)       Kelancaran kegiatan orientasi perawat baru
e)        Kebenaran dan ketepatan protab / SOP pelayanan keperawatan
f)         Kebenaran dan ketepatan laporan berkala pelaksanaan pelaksaaan keperawatan

g)        Kebenaran dan ketepatan kebutuhan dan penggunaan alat
h)        Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan progam bimbingan siswa/mahasiswa institusi pendidikan keperawatan

Wewenang Kepala Ruangan:

Dalam menjalankan tugasnya Kepala Ruangan mempunyai wewenang sebagai berikut:
1.        Meminta informasi dan pengarahan kepada atasan
2.        Memberi petunjuk dan bimbingan pelaksanaan tugas staf keperawatan
3.        Mengawasi, mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan, peralatan dan mutu asuhan keperawatan di ruang perawatan
4.        Menandatangani surat dan dokumen yang ditetapkan menjadi wewenang Kepala Ruangan
5.        Menghadiri rapat berkala dengan kepala instansi/Kasi/Kepala Rumah Sakit untuk kelancaran pelaksanaan pelayanan keperawatan

Tugas Kepala Ruangan

Mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang berada di wilayah tanggung jawabnya
1)                      Melaksanaan fungsi perencanaan (P1), meliputi :
§ Menyusun rencana kerja kepala ruangan
§ Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan
§ Merencanakan jumlah jenis peralatan perawatan yang diperlukan sesuai kebutuhan
§ Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat, koodinasi dengan kepala instansi
§ Merencanakan dan menentukan jenis kegiatan/ asuhan keperawatan yang akan diselenggarakan sesuai kebutuhan

2)                      Melaksanaan fungsi penggerakan dan pelaksanaan (P2)
§ Mengatur dan menkoordinasikan seluruh kegiatan pelayanan ruang rawat, melalui kerja sama dengan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya.
§ Menyusun jadwal dan mengatur daftar dinas tenaga perawatan
§ Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian meliputi: penjelasan tentang peraturan rumah sakit, tata tertib ruang inap, fasilitas yang ada dan cara penggunaaanya dan kegiatan rutin sehari hari
§ Membimbing tenaga keperawatan untuk melakukan pelayanan/ asuhan keperawatan yang sesuai ketentuan.
§ Mengadakan pertemuan berkala atau sewaktu waktu dengan staf keperawatan dan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya.
§ Melaksanakan orientasi tenaga perawatan yang baru atau tenaga lain yang akan bekerja diruang rawat
§ Memeberikan kesempatan /ijin kepada staf keperawatan untuk mengikuti kegiatan ilmiah/ penataran dengan koordinasi kepala instansi / kasi keperawatan / kepala bidang keperawatan.
§ Mengupayakan pengadaan peralatan dan obat obatan sesuai kebutuhan berdasarkan ketentuan atau kebijakan rumah sakit
§ Mengatur dan mengkoordinasikan pemeliharaan alat agar selalau dalam keadaan siap pakai
§ Mendampingi visite dokter dan mencatat instruktur dokter khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien.
§ Mengelompokkan pasien dan mengatur penempatan diruang rawat menurut tingkat kegawatan, infeksi /non infeksi untuk kelancaran pemberian asuhan keperawatan.
§ Memberikan motivasi kepada petugas dalam memelihara kebersihan lingkungan ruang rawat
§ Meneliti pengisian formulir sensus harian pasien rawat inap
§ Menyimpan semua berkas catatan medik pasien dalam masa perawatan diruang rawatnya dan selanjutnya mengembalikan ke MR

§ Membuat laporan harian mengenai pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan serta kegiatan lain diruang rawa
§ Membimbing    mahasiswa    keperawatan   yang    menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek
§ Memberikan      penyuluhan     kesehatan     kepada     pasienatau keluarganya sesuai kebutuhan dasar dalam batas wewenangnya
§ Melakukan serah terima pasien dan lain lain pada saat pergantian dinas

3)                      Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan penilaian meliputi:
§ Mengendalikan dan menilai pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah di tentukan
§ Mengawasi dan menilai siswa/ mahasiswa keperawatan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program bimbingan yang telah ditentukan
§ Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan yang berada dibawah tanggung jawabnya.
§ Menguasai, mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga perawatan, peralatan perawatan serta obat-obatan secara efektif dan efisien.
§ Mengawasi dan menilai mutu asuhan keperawatan sesuai standar yang berlaku secara mandiri atau kordinasi dengan tim pengendali mutu asuhan keperawatan.


2.        Perawat Primer
a.         Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprensif
b.        Membuat tujuan dan rencana keperawatan
c.         Melaksanakan rencana yang telah dibuat selam praktek bila di perlukan
d.        Mengkomunikasihkan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin ilmu lain maupun perawat lain.
e.         Mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan

f.         Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial di masyarakat
g.        Membuat jadwal perjanjian klinik
h.        Mengadakan kunjungan rumah bila perlu


3.        Perawat Pelaksana / Assosiate

Tanggungjawabperawatpelaksana

Dalam menjalankan tugasnya perawat pelaksana di rawat bertanggung jawab kepada kepala ruangan/instalasi terhadap hal-hal sebagai berikut:
a)        Kebenaran dan ketepatan dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai standar.
b)        Kebenaran dan ketepatan dalam mendokumentasikan pelaksanaan asuhan keperawatan/ kegiatan lain yang dilakukan

Wewenang Perawat Pelaksana

Dalam menjalankan tugasnya perawat pelaksana di ruang rawat mempunyai wewenang sebagai berikut:
a)        Meminta informasi dan petunjuk pada atasan
b)        Memberikan asuhan keperawatan pada pasien/ keluarga pasien sesuai kemampuan dan batas kewenangan.

Tugas pokok perawat pelaksana:

1)        Memelihara kebersihan ruang rawat dan lingkungannya
2)        Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku
3)        Memelihara peralatan keperawatan dan medis agar selalu dalam keadaan siap pakai
4)        Melakukan pengakajian keperawatan dan menentukan diagnosa keperawatan
5)        Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan kemampuannya.
6)        Melakukan tindakan keperawatan kepada pasien sesuai kebutuhan dan batas kemampuannya, antara lain:
·    Melaksanakan tindakan pengobatan sesuai program pengobatan
·    Memberi penyuluhan kesehatan kepada pasien dan keluarganya mengenai penyakitnya.

1.        Melatih/ membantu pasien untuk latihan gerak.
2.        Melakukan tindakan darurat kepda pasien (antara lain: panas tinggi, kolaps, perdarahan, keracunan, henti napas dan henti jantung) sesuai dengan protab yang berlaku. Selanjutnya segera melaporkan tindakan yang telah dilakukan kepada dokter ruang rawat/ dokter jaga.
3.        Melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan sesuai batas kemampuannya.
4.        Mengobservasi kondisi pasien, selanjutnya melakukan tindakan yang tepat berdasarkan hasil observasi tersebut sesuai batas kemampuannya.
5.        Berperan serta dengan anggota tim kesehatan dalam membahas kasus dan upaya meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
6.        Melaksanakan tugas pagi, sore, malam dan libur secara bergilir sesuai jadwal dinas.
7.        Mengikuti pertemuan berkala yang diadakan oleh kepala ruang rawat
8.        Melaksanakan sistem pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan yang tepat dan benar sesuai standar asuhan keperawatan
9.        Melaksanakan serah terima tugas kepada petugas pengganti secara lisan maupun tulisan pada saat pengganti dinas.

2.3.  Gaya Kepemimpinan : Perbedaan dan Penggunaannya

Telah disebutkan bahwa gaya kepemimpinan tersebut dipengaruhi oleh sifat dan perilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Karena sifat dan perilaku antara seorang dengan orang lainnyatidak persis sama, maka gaya kepemimpinan (leadership style) yang diperlihatkan pun juga tidak sama. Bertitik tolak dari pendapat adanya hubungan antara gaya kepemimpinan dengan perilaku tersebut, maka dalam membicarakan gaya kepemimpinan yang untuk bidang administrasi sering dikaitkan dengan pola manajemen (pattern of management), sering dikaitkan dengan pembicaraan tentang perilaku. Tegantung dari sifat dan perilaku yang dihadapi dalam suatu organisasi dan atau yang dimiliki oleh pemimpin,

maka gaya kepemimpinan yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin dapat berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Berbagai gaya kepemimpinan tersebut jika disederhanakan dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1.  Gaya Kepemimpinan Otoriter
Pada gaya kepemimpinan Otoriter (dictatorial leadership style) ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutanserta ancaman hukuman. Tidak ada hubungan dengan bawahan, karena mereka dianggap hanya sebagai pelaksana dan pekerja saja.
2.  Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pada gaya kepemimpinan demokratis (democratic leadership style) ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dengan baik. Segi positif dari gaya kepemimpinan ini mendatangkankeuntungan antara lain: keputusan serta tindakan yang lebih obyektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki, serta terbinanya moral yang tinggi. Sedangkan kelemahannya : keputusan serta tindakan kadang -kadang lamban, rasa tanggung jawab kurang, serta keputusan yang dibuat terkadang bukan suatu keputusan yang terbaik.
3.  Gaya Kepemimpinan Partisipasif
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah dan mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.
4.  Gaya Kepemimpinan Santai
Pada gaya kepemimpinan santai (laissez -faire leadership style) ini peranan pimpinan hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan kepada bawahan, jadi setiap anggota organisasi dapat melakukankegiatan masing -masing sesuai dengan kehendak masing -masing pula.

2.4.  Penerapan Teori, Konsep dan Prinsip Kepemimpinan Manajemen di Ruang Rawat dan Puskesmas

A.       Penerapan Teori Kepemimpinan Manajemen di Ruang Rawat dan Puskesmas
Saat ini perawat profesional mengemban peran penting dalam praktik keperawatan mengenai kepemimpinan dan managemen keperawatan, terlepas dari apapun aktivitas yang mereka lakukan. Kepemimpinan dan managemen adalah dua hal yang berbeda, namun saling terkait. Kepemimpinan didefinisikan sebagai “proses mempengaruhi orang lain”. Manajemen tidak hanya meliputi kepemimpinan, tetapi juga koordinasi dan integrasi sumber daya melalui perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasikan, pengarahan, dan pengendalian untuk mencapai tujuan dan objek spesifik dari institusi (Huber, 2000). Pemimpin berfokus pada orang, sedangkan manajer berfokus pada struktur. Perawat dapat  mengemban peran kepemimpinan dalam lingkungan kerja mereka, dan komunitas mereka, meskipun mereka memiliki atau tidak memiliki posisi kepemimpinan yang ditetapkan. Sebagai pemimpin di tempat kerja (puskesmas), mereka dapat membantu dalam perbaikan kualitas perawatan klien. Sebagai pemimpin di profesi, perawat tidak hanya dapat membantu perbaikan perawatan klien, tetapi juga perbaikan lingkungan kerja perawat. Karena pengetahuan dan ketrampilan khususnya, perawat dapat mengemban tugas memimpinnya di komunitas, membantu perubahan yang meningkatkan kesejahteraan fisik, psikologis, dan social dalam masyarakat sebagai satu kesatuan. Sebagai seorang manager dan pemberi perawatan klien, perawat mengkoordinasikan berbagai profesional perawatan kesehatan dan layanan mereka untuk membantu klien mendapatkan hasil akhir yang mereka inginkan.

B.       Konsep dan Prinsip Kepemimpinana Manajemen di Ruang Rawat dan Puskesmas

1.  Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.

2.  Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
3.  Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbargai tingkat manajerial.
4.  Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.
5.  Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6.  Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang telah diorganisasikan.
7.  Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
8.  Manajemen keperawatan menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
9.  Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat–perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
10.  Pengendalian merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan prinsip –prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan standar dan memperbaiki kekurangan.
Berdasarkan prinsip–prinsip diatas maka para manajer dan administrator seyogyanya bekerja bersama dalam perencanaan dan pengorganisasian serta fungsi–fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

BAB III PENUTUP


A.     Simpulan
Kepemimpinan dibandang sebagai suatu proses interaktif yang dinamis yang mencakup tiga dimensi; pimpinan, bawahan dan situasi. Masing-masing dari dimensi tadi saling mempengaruhi misalnya, pencapaian tujuan tergantung bukan karena hanya sifat pribadi dari seorang pemimpin, tetapi juga tergantung dari kebutuhan bawahan dan bentuk dari suatu keadaan.


B.      Saran

Kami berharap agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami dengan baik, tentang model-model kepemimpinan dalam keperawatan agar menjadi pedoman kita sebagai perawat.

DAFTAR PUSTAKA



3.        Kuntoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika
4.        Suarli S. Yanyan Bachtiar (2009) Manajemen Keperawatan Pendekatan Praktis: Jakarta: Erlangga
5.        Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
8.        James A.F. Stoner, Management, Secont Editions, Prentice-Hall International, Inc., 1982.
9.        Robert J. Thierauf, Robert C. Klekamp, Daniel W. Gedding, Management Principles and Practices: A Contigency and Questionnare Approach, John Willey & Son, New York, 1997
10.    Stephen J. Carrol & Henry L. Tosy, Organizational Behavior, John Willey & Son, New York, 1977
11.    Fiedler, F.E.1967. A Theory of Leadership Effectivenss, New York: McGraw-Hill.
12.    Stoner, James A.F dan R. Edward Freeman. 1989. Management, Prentice-Hall of India.
13.    Vroom V. dan Yetton, P. 1974. Leadership and Decision Making, Pittsburgh, PA: University of Pittsbyrgh Press.
14.    Robbins, Stephen, et.al. 1994. Organizational Beharviour: Concepts, Controversies and Applications, Prentice-Hall Australia and New Zealand.
15.    Howell, J.M. dan Avolio, B.J. 1993. Transformational Leadership,Transactional Leadership, Locus of Control Support for Innovation, Journal of Applied Psychology 78, p. 891-902.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENGORGANISASIAN

TUGAS MANAGEMENT “PENGORGANISASIAN” Disusun Oleh : 1.    MARIA ULFA LISTIA...