MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN
DISUSUN OLEH KELOMPOK 1
|
1. ARTANTI
|
(2016030001)
|
|
2. MICHAEL
R LIUNOKAS
|
(2016030006)
|
|
3. SONYA
DWI ALFITRIYANI
|
(2016030009)
|
|
4. YOSEPH
COPERTINO T
|
(2016030012)
|
|
5. GILBERTH
MAURITS S
|
(2016030029)
|
|
6. SARCE WAGAREFE
|
(2016030033)
|
|
7. MARYANI
VILADELVIA B
|
(2016030195)
|
|
8. RONA J NENOBAIS
|
(2016030037)
|
|
9. ELMIADINI
NURRIMA FITRI
|
(2016030137)
|
|
10.
SRI WULANDARI
|
(2016030174)
|
|
11.
SITI ROHMANI
|
(2016030146)
|
|
12. SITI QOMARIYAH
NURNAFIK
|
(2016030140)
|
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah
Subhanahu Wata’ala yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tepat pada waktunya. Makalah ini
berjudul “MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN
DALAM KEPERAWATAN”.
Makalah
ini penulis buat sebagai salah satu syarat tugas mata kuliah Manajemen
Keperawatan.
Dalam proses pembuatan makalah ini penulis banyak menemui
kesulitan dalam menjabarkan materi dan penulis menyadari banyaknya kekurangan
dalam penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun demi perbaikan makalah ini ke depan.
Jombang, 10 April 2020
Tim Penulis
DAFTAR ISI
3.1. Kesimpulan.......................................................................................................... 24
3.2. Saran.................................................................................................................... 24
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manajemen pelayanan keperawatan sebagai sub sistem
manajemen rumah sakit harus memperoleh tempat dan perhatian sama dengan
manajemen lainnya, sehingga rumah sakit dapat berfungsi sebagaimana
diharapkan.Lingkup manajemen operasional dan manajemen asuhan keperawatan yaitu
merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengawasi sumber daya
keperawatan. Fungsi-fungsi manajemen keperawatan adalah perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, yang harus dilakukan oleh manajer
dalam bentuk supervisi. Supervisi yang dilakukan oleh manajer keperawatan
secara baik dan terus menerus dapat memastikan pemberian asuhan keperawatan sesuai dengan standar praktek
keperawatan (Depkes RI, 1994). Dengan supervisi kepala ruangan sebagai manajer
dapat mempengaruhi kinerja perawat pelaksana.
1.2. Rumusan Masalah
1.
Apa teori, konsep dan prinsip dasar kepemimpinan
manajemen keperawatan?
2.
Apa fungsi, peran dan tanggung jawab manajer keperawatan?
3.
Apa gaya kepemimpinan : perbedaan dan penggunaannya?
4.
Apa penerapan teori, konsep dan
prinsip kepemimpinan manajemen diruang rawat dan puskesmas?
1.3. Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui teori, konsep dan
prinsip dasar kepemimpinan manajemen keperawatan
2.
Mengetahui fungsi, peran dan tanggung jawab manajer keperawatan
3.
Mengetahui gaya kepemimpinan : perbedaan dan penggunaannya
4.
Mengetahui penerapan teori, konsep
dan prinsip kepemimpinan manajemen diruang rawat dan puskesmas
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1. Teori, Konsep Dan Prinsip Dasar Kepemimpinan Manajemen Keperawatan
A. Teori Kepemimpinan Manajemen Keperawatan
Kepemimpinan adalah sebuah proses mempengaruhi orang lain untuk
melaksanakan tugas-tugas organisasi secara suka rela (Fairholm, 1991; Gardner,
2000). Bahkan menurut Gemmil dan Oakley (1992) kepemimpinan adalah sebuah
proses kerjasama antara anggota organisasi dalam merumuskan metode baru untuk
meningkatkan kualitas organisasi. Fulan (2000, hal. 3) mengatakan bahwa “leadership is a process of persuasion or
example by which an individual (or leadership team) induce the group to pursue
objectives shared by the leaders and his or her followers”. Fulan
berpendapat bahwa kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi anggota
organisasi lainnya untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan oleh pemimpin
dan anggota organisasi lainnya. Ini artinya bahwa kepemimpinan bukan hanya
didefinisikan dari sudut jabatan, tapi lebih tepatnya, kepemimpinan ini adalah
kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain tanpa paksaan untuk mencapai
sesuatu yang sudah dirumuskan sebelumnya oleh anggota organisasi.
Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan
agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa
teori tentang kepemimpinan antara lain :
1. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan
seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar
pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan
pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri ideal yang
perlu dimiliki pemimpin menurut Ghizeli dan Stogdil:
1.
Kecerdasan
2.
Kemampuan mengawasi
3.
Inisiatif
4.
Ketenangan diri
5.
Kepribadian
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara
lain: terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat
dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori
yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang
terkandung didalamnya mengenai berbagaio rumusan sifat, ciri atau perangai
pemimpin, justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip
keteladanan.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh
terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
v Kecerdasan
v Kedewasaan dan
Keluasan Hubungan Sosial
v Motivasi Diri dan
Dorongan Berprestasi
v Sikap Hubungan Kemanusiaan
Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil sangat
ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Karena itu, timbul usaha dari para ahli
untuk meneliti dan merinci kualitas seorang pemimpin yang berhasil melaksanakan
tugas kepemimpinannya, kemudian hasilnya diformulasikan ke dalam sifat-sifat
umum seorang pemimpin. Usaha tersebut berkembang menjadi teori kepemimpinan
yang disebut “teori sifat kepemimpinan” (Robbins, at.al., 1994: 469).


Teori Lahirnya Pemimpin :
Ø TEORI GENETIK
Seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif karena ia dilahirkan
dengan bakat-bakat kepemimpinan.
Pemimpin itu
dilahirkan (Leaders are born)
Ø TEORI SOSIAL
Siapapun dapat ditempa menjadi pemimpin yang efektif, melalui berbagai
pendidikan dan pelatihan kepemimpinan.
Pemimpin itu
dibentuk (Leaders are made)
Ø TEORI EKOLOGIS
Seorang bisa muncul sebagai pemimpin yg efektif bila dilandasi bakat yg
dibawa sejak lahir serta diberi kesempatan menduduki jabatan pimpinan dan
kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan.
(Leader are born and made)
2. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan
perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok
kearah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pimpinan mempunyai deskripsi perilaku:
·
Konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan
bawahan memiliki cirri ramah tamah, mau berkonsultasi, mendukung, membela,
mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta
memperlakukannya setingkat dirinya. Disamping itu terdapat pula kecenderungan
perilaku pemimpin yang lebih meningkatkan tugas organisasi.
·
Berorientasi kepada bawahan dan produksi
Perilaku pemimpin yang berorientasi kepada baawahan
ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin
pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan
dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada
produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan,
pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership
continum pada dasasrnya ada dua yaitu berorientasi pada pemimpin dan bawahan.
Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat
diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap
bawahan atau hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya
tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF. Soner,
1978: 442-443).
Tingkah laku pemimpin lebih terkait dengan proses
kepemimpinan. Karena itu, ada dua dimensi utama kepemimpinan yang dikenal
dengan nama konsiderasi dan struktur inisiasi. Dua macam kecenderungan perilaku
kepemimpinan tersebut pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah
fungsi dan gaya kepemimpinan.

Berdasarkan tabel di atas dapat dipahami bahwa perilaku
pemimpin yang efektif melakukan konsiderasi tergantung pada aspek berikut:
·
Kepuasan pengikut terhadap pemimpin
tergantung pada derajat konsiderasi yang ditunjukkan oleh pemimpin.
·
Konsiderasi pemimpin lebih
berpengaruh terhadap pengikut ketika pekerjaan tidak menyenangkan dan mendesak,
dari pada ketika pekerjaan menyenangkan dan tidak mendesak.
·
Pemimpin yang menunjukkan
konsiderasi dapat melakukan inisiasi struktur yang lebih banyak tanpa
mengurangi kepuasan pengikutnya.
·
Konsiderasi yang diberikan sebagai
respons terhadap kinerja yang baik akan meningkatkan kemungkinan kinerja yang
baik di masa depan.
Sedangkan perilaku pemimpin
yang efektif melakukan inisiasi struktur adalah:
·
Inisiasi struktur yang memperjelas peran tambahan akan meningkatkan kepuasan.
·
Inisiasi struktur akan menyurutkan
kepuasan pengikut ketika struktur tersebut sudah tersedia.
·
Inisiasi struktur akan meningkatkan kinerja ketika
tugas tidak jelas.
·
Inisiasi struktur tidak akan
mempengaruhi kinerja ketika tugas jelas (Leadership, 2001: 2).
Uraian di atas memperjelas bahwa teori kepemimpinan
perilaku mencoba menjelaskan keunikan gaya yang digunakan oleh pemimpin yang
efektif, atau memahami sifat-sifat pekerjaan pemimpin. Sepuluh peran manajerial
dari Henry Minzberg merupakan salah satu contoh teori kepemimpinan perilaku.
Peneliti perilaku menekankan pada penemuan cara mengklasifikasikan perilaku
yang dapat memberikan pemahanan mengenai kepemimpinan.
3. Teori Situasional
Keberhasilan seorang pimpinan menurut teori situasional
ditentukan oleh ciri kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi
dengan memperhitungkan factor waktu dan ruang. Faktor situasional yang
berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian
(1994:129) adalah:
·
Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas
·
Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan
·
Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan
·
Norma yang dianut kelompok
·
Rentang kendali
·
Ancaman dari luar organisasi
·
Tingkat stress
·
Iklim yang terdapat dalam organisasi
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca” situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya
kepemimpinan
agar cocok dengan dan mampu memenuhi tuntunan situasi tersebut. Penyesuaian
gaya kepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinan dan
perilaku tertentu karena tuntunan situasi tertentu.
Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model
kepemimpinan berikut:
a. Teori Kontingensi
Teori
kontingensi menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di
mana kemampuan seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan
situasi tugas kelompok (group task
situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya kepemimpinannya,
kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan kelompoknya. Dengan
perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin bukan karena
sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor situasi dan
adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya.
Model Contingency dari kepemimpinan yang efektif
dikembangkan oleh Fiedler (1967) .
Menurut model ini, maka the performance
of the group is contingen upon both the motivasional system of the leader and the degree to which
the leader has control and influence in a particular situation, the situational
favorableness (Fiedler, 1974:73).
Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu
kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana
pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
|
Pengendalian Situasional
|
Pengendalian Situasi Tinggi
|
Pengendalian Situasi Moderat
|
Pengendalian Situasi Rendah
|
|||||
|
Hubungan
Pemimpin-Anggota
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Buruk
|
Buruk
|
Buruk
|
Buruk
|
|
Struktur Tugas
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Rendah
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Rendah
|
Rendah
|
|
Kekuatan posisi
|
Kuat
|
Lemah
|
Kuat
|
Lemah
|
Kuat
|
Kuat
|
Kuat
|
Lemah
|
|
Situasi
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
VII
|
VIII
|
b.
Teori Normatif
Vroom dan Yetton (1973) mengembangkan model kepemimpinan normatif dalam 3 kunci utama:
metode taksonomi kepemimpinan, atribut-atribut permasalahan, dan pohon
keputusan (decision tree). 5 tipe kunci metode kepemimpinan yang
teridentifikasi (Vroom & Yetton, 1973):
1) Autocratic I: membuat
keputusan dengan menggunakan informasi yang saat ini terdapat pada pemimpin.
2) Autocratic II: membuat
keputusan dengan menggunakan informasi yang terdapat pada seluruh anggota
kelompok tanpa terlebih dahulu menginformasikan tujuan dari penyampaian
informasi yang mereka berikan.
3) Consultative I: berbagi
akan masalah yang ada dengan individu yang relevan, mengetahui ide-ide dan
saran mereka tanpa melibatkan mereka ke dalam kelompok; lalu membuat keputusan.
4) Consultative II: berbagi
masalah dengan kelompok, mendapatkan ide-ide dan saran mereka saat diskusi
kelompok berlangsung, dan kemudian membuat keputusan.
5) Group II: berbagi
masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok, serta menerima
dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok.
c. Teori Siklus Hidup
Konsep dasar teori siklus kehidupan adalah strategi dan
perilaku pemimpin harus situasional dan didasarkan pada kedewasaannya dan para
pengikutnya. Kedewasaan adalah kemampuan individu atau kelompok dalam
menetapkan tujuan tinggi tetapi dapat dicapai, ada kemampuan mereka untuk
mengambil tanggung jawab. Perilaku tugas adalah tingkat dimana pemimpin
cenderung untuk mengorganisasikan dan menentukan peranan-peranan para pengikut,
menjelaskan setiap kegiatan yang dilaksanakan, kapan dan dimana, dan bagaimana
tugas diselesaikan.Perilaku Hubungan berkenaan dengan hubungan pribadi pemimpin
dengan individu atau para anggota kelompoknya.
Menurut Paul Hersey dan Blachard (1995:34) mengemukakan
bahwa hubungan antara pemimpin dengan bawahannya berjalan melalui 4 (empat)
tahap menurut perkembangan dan kematangan bawahan yaitu :
1)
Gaya
Penjelasan (telling style) yaitu pada saat bawahan pertama
kali memasuki organisasi, orientasi tugas yang tinggi dan orientasi hubungan
yang rendah paling tepat. Bawahan harus lebih banyak diberi perintah dalam
pelaksanaan tugasnya dan diperkenalkan dengan aturan-aturan dan prosedur organisasi.
2)
Gaya
Menjual (selling style) yaitu pada tahap ini bawahan mulai
mempelajari tugas-tugasnya. Kepemimpinan orientasi tugas yang tinggi masih
diperlukan, karena bawahan belum bersedia menerima tanggung jawab yang penuh.
Tetapi kepercayaan dan dukungan pemimpin terhadap bawahan dapat meningkat. Di
mana pemimpin dapat mulai menggunakan perilaku yang berorientasi hubungan yang tinggi.
3)
Gaya
Partisipasi (participating style) yaitu tahap ini kemampuan
dan motivasi pestasi bawahan meningkat, dan bawahan secara aktif mulai mencari
tanggung jawab yang lebih besar. Di mana perilaku pemimpin adalah orientasi
hubungan tinggi dan orientasi tugas rendah.
4) Gaya Pendelegasian (delegating style)
yaitu tahap ini bawahan secara berangsur-angsur menjadi lebih
percaya diri, dapat mengarahkan diri sendiri, cukup berpengalaman, dan tanggung
jawabnya dapat diandalkan. Di mana gaya pendelegasian yang tepat yaitu
orientasi tugas dan hubungan rendah.
d. Teori Kontinum
Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994)
berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa cara,
yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan perilaku
otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya yang disebut
dengan perilaku demokratis.
Perilaku otokratis, pada umumnya dinilai bersifat negatif,
di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari adanya pengaruh pimpinan. Jadi
otoritas berada di tangan pemimpin, karena pemusatan kekuatan dan pengambilan
keputusan ada pada dirinya serta memegang tanggung jawab penuh, sedangkan
bawahannya dipengaruhi melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif,
gaya kepemimpinan ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan
cepat, dapat memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan
keteraturan bagi bawahan.Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis
ini adalah pada tugas.
Perilaku demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh
sumber kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika bawahan dimotivasi dengan tepat
dan pimpinan dalam melaksanakan kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama
dan team work untuk mencapai tujuan, di mana si pemimpin senang menerima saran,
pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi
dan keputusan kelompok.
e. Teori Path-Goal
Tokoh-tokoh dari teori ini adalah Georgepoulos (Univ.
Michigan), Martin Evans dan Robert House. Seorang pemimpin yang efektif menurut
model ini adalah pemimpin yang mampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh
bawahan. Jalan itu seperti:
·
Mengetahui dan atau menumbuhkan
kebutuhan para bawahan untuk menghasilkan sesuatu yang dapat dikontrol pemimpin.
·
Memberikan insentif kepada bawahan
yang mampu mencapai hasil dalam bekerja.
·
Membuat jalan yang mudah dilewati
bawahan dalam menaikkan prestasinya.
·
Membantu karyawan dengan menjelaskan apa yang dapat diterapkan.
·
Mengurangi halangan yang dapat membuat frustasi.
·
Menaikkan kesempatan untuk pemuasan karyawan yang memungkinkan
tercapainya efektifitas kerja.
Perhatian utama model ini adalah perilaku pimpinan
dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu
disesuaikan dengan struktur tugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.
B. Konsep Kepemimpinan Manajemen Keperawatan
Konsep dasar manajemen keperawatan adalah manajemen
partisipatif yang berlandaskan kepada paradigma keperawatan yaitu manusia,
perawat, kesehatan dan lingkungan dengan merumuskan kerangka konsep menjadi
kerangka kerja untuk menunjang praktek keperawatan dan merupakan keyakinan
dasar dari tim perawatan.
Manusia dalam manajemen partisipatif adalah individu,
keluarga/masyarakat yang diberikan pelayanan keperawatan melalui pelaksanaan
tugas keperawatan yang terorganisasi, terarah, terkoordinasi dan terintegrasi
dalam rentang kendali yang ditetapkan. Perawat/keperawatan adalah tenaga
keperawatan baik tingkat manajerial puncak, menengah, maupun bawah,
dan para pelaksana keperawatan yang berada
dalam rentang
komunikasi
untuk bekerja sama memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan standar
praktek keperawatan.
Aspek kesehatan merupakan kisaran hasil keperawatan yang
berorientasi pada beberapa dimensi pelayanan terhadap individu, keluarga, dan
masyarakat melalui upaya mencegah, mempertahankan, meningkatkan dan memulihkan.
Aspek lingkungan merupakan area kewenangan dan tanggung jawab keperawatan baik
selama pasien berada dalam institusi pelayanan maupun persiapan menjelang
pulang. (Agus Kuntoro, hal:20)
C. Prinsip Dasar Kepemimpinan Manajemen Keperawatan
1. Manajemen
keperawatan selayaknya berlandaskan pada suatu perencanaan karena melalui
fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan,
pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
2. Manajemen
keperawatan dapat dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer
keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun suatu perencanaan yang
terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan sebelumnya.
3. Manajemen
keperawatan akan melibatkan pengambilan suatu keputusan. Berbagai situasi
maupun suatu permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan suatu kegiatan
keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbergai tingkat manajerial.
4. Memenuhi
suatu kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer
perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan
ingini. Kepuasan pasien merupakan poin yang
paling utama dari seluruh tujuan keperawatan.
5. Manajemen
keperawatan harus bisa terorganisir. Pengorganisasian tersebut dilakukan sesuai
dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6. Pengarahan
merupakan suatu elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses
pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang
telah diorganisasikan.
7. Divisi
keperawatan yang baik dapat memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan
kerja yang baik.
8. Manajemen
keperawatan dapat menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi yang efektif
akan mengurangi suatu kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah
dan pengertian diantara pegawai.
9. Pengembangan
staf penting untuk dapat dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat – perawat
pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk dapat
meningkatkan pengetahuan karyawan.
10. Pengendalian
yakni salah satu elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang
pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan
sebuah prinsip – prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan
dengan standar dan memperbaiki kekurangan
2.2. Fungsi, Peran Dan Tanggung Jawab Manajer Keperawatan
A. Fungsi Manajer Keperawatan
a.
Perencanaan
Adalah suatu proses menetapkan sasaran dan
memilih cara untuk sasaran tersebut
b.
Pengorganisasian
Adalah seluruh proses pengelompokan
tugas-tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawab, penetapan orang dan
alat-alat.
c.
Pengarahan
Adalah
pengeluaran, penugasan, pesanan dan instruksi.
d.
Pengawasan dan Pengendalian
Suatu proses kegiatan seorang pemimpin untuk menjamin agar pelaksanaan
kegiatan organisasi sesuai dengan rencana, kebijaksanaan
dan ketentuan yang telah ditetapkan
B. Peran Manajer Keperawatan
Peran manajer di lingkungan perawatan kesehatan pada saat
ini mengalami perubahan yang berarti, dimana organisasi perawat kesehatan ini
melakukan desentralisasi fungsi manajemen dan pengorganisasian tiap unit oleh
seorang manajer perawatan. Adapun beberapa tanggung jawab yang diberikan kepada
perawat manajer ( Potter & Perry, 2005), antara lain tanggung jawab untuk :
1. Mempekerjakan,
mengembangkan dan mengevaluasi stafnya.
2. Pengembangan
anggaran tahunan unit yang dipimpinnya dan memegang kewenangan untuk mengatur
unit sesuai dana tersebut.
3. Memantau
kualitas perawatan, menghadapai masalah tenaga kerjanya, dan melakukan hal-hal
tersebut dengan biaya yang efektif.
Selanjutnya Potter & Perry (2005), menyatakan bahwa
yang harus dilakukan perawat profesional dalam perannya sebagai manajer asuhan
keperawatan adalah :
1.
Perencanaan / penetapan tujuan
Membantu
pasien dan keluarga dalam merumuskan gambaran mereka tentang kesehatan setelah
kembali dari perawatan di rumah sakit
2.
Pengajaran/orientasi
Memahami
informasi untuk mendorong fungsi & kesehatan pasien / keluarga
3.
Koordinasi dengan
pelayanan
Membantu
keluarga dalam pemanfatan pelayanan pendukung (pemuka agama, perawatan di
rumah) dan penjadwalan perawatan pasien.
4.
Pengembangan sistem
pendukung
Menekankan
pada pasien dan keluarga untuk memikirkan tanggung jawab yang lebih besar dalam
mempertahankan kesehatannya
5.
Perwalian kelompok atau profesi
kerja Aktif berpartisipasi dalam tugas kelompok atau berpartisipasi dalam
aktivitas di masyarakat
C. Tanggung Jawab Manajer Keperawatan
1. Kepala Ruangan
Dalam melaksanakan tugasnya
kepala ruangan bertanggung jawab kepada kepala instalansi terhadap hal-hal
sebagai berikut:
a)
Kebenaran dan ketepatan rencana kebutuhan tenaga keperawatan
b)
Kebenaran dan ketepatan progam pengembangan pelayanan
keperawatan
c)
Keobyektifan dan kebenaran penilaian kinerja tenaga keperawatan
d)
Kelancaran kegiatan orientasi perawat baru
e)
Kebenaran dan ketepatan protab / SOP pelayanan keperawatan
f)
Kebenaran dan ketepatan laporan
berkala pelaksanaan pelaksaaan keperawatan
g)
Kebenaran dan ketepatan kebutuhan dan penggunaan
alat
h)
Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan
progam bimbingan siswa/mahasiswa institusi pendidikan keperawatan
Wewenang Kepala Ruangan:
Dalam menjalankan tugasnya Kepala Ruangan mempunyai
wewenang sebagai berikut:
1.
Meminta informasi dan pengarahan kepada atasan
2.
Memberi petunjuk dan bimbingan
pelaksanaan tugas staf keperawatan
3.
Mengawasi, mengendalikan dan
menilai pendayagunaan tenaga keperawatan, peralatan dan mutu asuhan keperawatan
di ruang perawatan
4.
Menandatangani surat dan dokumen
yang ditetapkan menjadi wewenang Kepala Ruangan
5.
Menghadiri rapat berkala dengan
kepala instansi/Kasi/Kepala Rumah Sakit untuk kelancaran pelaksanaan pelayanan
keperawatan
Tugas Kepala Ruangan
Mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan di ruang
rawat yang berada di wilayah tanggung jawabnya
1)
Melaksanaan fungsi perencanaan (P1), meliputi :
§ Menyusun rencana
kerja kepala ruangan
§
Berperan serta menyusun falsafah
dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan
§
Merencanakan jumlah jenis peralatan
perawatan yang diperlukan sesuai kebutuhan
§
Menyusun rencana kebutuhan tenaga
keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat, koodinasi
dengan kepala instansi
§
Merencanakan dan menentukan jenis
kegiatan/ asuhan keperawatan yang akan diselenggarakan sesuai kebutuhan
2)
Melaksanaan fungsi penggerakan dan pelaksanaan (P2)
§
Mengatur dan menkoordinasikan
seluruh kegiatan pelayanan ruang rawat, melalui kerja sama dengan petugas lain
yang bertugas diruang rawatnya.
§ Menyusun jadwal dan
mengatur daftar dinas tenaga perawatan
§
Melaksanakan fungsi pengawasan,
pengendalian dan penilaian meliputi: penjelasan tentang peraturan rumah sakit,
tata tertib ruang inap, fasilitas yang ada dan cara penggunaaanya dan kegiatan
rutin sehari hari
§
Membimbing tenaga keperawatan untuk
melakukan pelayanan/ asuhan keperawatan yang sesuai ketentuan.
§
Mengadakan pertemuan berkala atau
sewaktu waktu dengan staf keperawatan dan petugas lain yang bertugas diruang rawatnya.
§
Melaksanakan orientasi tenaga
perawatan yang baru atau tenaga lain yang akan bekerja diruang rawat
§
Memeberikan kesempatan /ijin kepada
staf keperawatan untuk mengikuti kegiatan ilmiah/ penataran dengan koordinasi
kepala instansi / kasi keperawatan / kepala bidang keperawatan.
§
Mengupayakan pengadaan peralatan
dan obat obatan sesuai kebutuhan berdasarkan ketentuan atau kebijakan rumah sakit
§
Mengatur dan mengkoordinasikan
pemeliharaan alat agar selalau dalam keadaan siap pakai
§
Mendampingi visite dokter dan mencatat
instruktur dokter khususnya bila ada perubahan program pengobatan pasien.
§
Mengelompokkan pasien dan mengatur
penempatan diruang rawat menurut tingkat kegawatan, infeksi /non infeksi untuk
kelancaran pemberian asuhan keperawatan.
§
Memberikan motivasi kepada petugas
dalam memelihara kebersihan lingkungan ruang
rawat
§ Meneliti pengisian
formulir sensus harian pasien rawat inap
§
Menyimpan semua berkas catatan
medik pasien dalam masa perawatan diruang rawatnya dan selanjutnya mengembalikan
ke MR
§
Membuat laporan harian mengenai
pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan serta kegiatan lain diruang rawa
§ Membimbing mahasiswa keperawatan yang menggunakan ruang rawatnya sebagai lahan praktek
§ Memberikan penyuluhan kesehatan kepada pasienatau keluarganya sesuai kebutuhan
dasar dalam batas wewenangnya
§ Melakukan
serah terima pasien dan lain lain pada saat pergantian dinas
3)
Melaksanakan fungsi pengawasan,
pengendalian dan penilaian meliputi:
§
Mengendalikan dan menilai
pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah di
tentukan
§
Mengawasi dan menilai siswa/
mahasiswa keperawatan untuk memperoleh pengalaman belajar sesuai tujuan program
bimbingan yang telah ditentukan
§
Melakukan penilaian kinerja tenaga keperawatan
yang berada dibawah tanggung jawabnya.
§
Menguasai, mengendalikan dan
menilai pendayagunaan tenaga perawatan, peralatan perawatan serta obat-obatan
secara efektif dan efisien.
§
Mengawasi dan menilai mutu asuhan
keperawatan sesuai standar yang berlaku secara mandiri atau kordinasi dengan
tim pengendali mutu asuhan keperawatan.
2.
Perawat Primer
a.
Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprensif
b.
Membuat tujuan dan rencana keperawatan
c.
Melaksanakan rencana yang telah
dibuat selam praktek bila di perlukan
d.
Mengkomunikasihkan dan
mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin ilmu lain maupun
perawat lain.
e.
Mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan
f.
Melakukan rujukan kepada pekerja
sosial, kontak dengan lembaga sosial di masyarakat
g.
Membuat jadwal perjanjian klinik
h.
Mengadakan kunjungan rumah bila perlu
3.
Perawat Pelaksana /
Assosiate
Tanggungjawabperawatpelaksana
Dalam menjalankan tugasnya perawat pelaksana di rawat
bertanggung jawab kepada kepala ruangan/instalasi terhadap hal-hal sebagai
berikut:
a)
Kebenaran dan ketepatan dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai standar.
b)
Kebenaran dan ketepatan dalam
mendokumentasikan pelaksanaan asuhan keperawatan/ kegiatan lain yang dilakukan
Wewenang Perawat Pelaksana
Dalam menjalankan tugasnya
perawat pelaksana di ruang rawat mempunyai wewenang sebagai berikut:
a)
Meminta informasi dan petunjuk pada atasan
b)
Memberikan asuhan keperawatan pada
pasien/ keluarga pasien sesuai kemampuan dan batas kewenangan.
Tugas pokok perawat pelaksana:
1)
Memelihara kebersihan ruang rawat dan lingkungannya
2)
Menerima pasien baru sesuai prosedur dan ketentuan
yang berlaku
3)
Memelihara peralatan keperawatan
dan medis agar selalu dalam keadaan siap pakai
4)
Melakukan pengakajian keperawatan
dan menentukan diagnosa keperawatan
5)
Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan kemampuannya.
6)
Melakukan tindakan keperawatan
kepada pasien sesuai kebutuhan dan batas kemampuannya, antara lain:
· Melaksanakan
tindakan pengobatan sesuai program pengobatan
·
Memberi penyuluhan kesehatan kepada
pasien dan keluarganya mengenai penyakitnya.
1.
Melatih/ membantu pasien untuk latihan gerak.
2.
Melakukan tindakan darurat kepda
pasien (antara lain: panas tinggi, kolaps, perdarahan, keracunan, henti napas
dan henti jantung) sesuai dengan protab yang berlaku. Selanjutnya segera
melaporkan tindakan yang telah dilakukan kepada dokter ruang rawat/ dokter jaga.
3.
Melaksanakan evaluasi tindakan
keperawatan sesuai batas kemampuannya.
4.
Mengobservasi kondisi pasien,
selanjutnya melakukan tindakan yang tepat berdasarkan hasil observasi tersebut
sesuai batas kemampuannya.
5.
Berperan serta dengan anggota tim
kesehatan dalam membahas kasus dan upaya meningkatkan mutu asuhan keperawatan.
6.
Melaksanakan tugas pagi, sore,
malam dan libur secara bergilir sesuai jadwal dinas.
7.
Mengikuti pertemuan berkala yang
diadakan oleh kepala ruang rawat
8.
Melaksanakan sistem pencatatan dan
pelaporan asuhan keperawatan yang
tepat dan benar sesuai standar asuhan keperawatan
9.
Melaksanakan serah terima tugas
kepada petugas pengganti secara lisan maupun tulisan pada saat pengganti dinas.
2.3. Gaya Kepemimpinan : Perbedaan dan Penggunaannya
Telah disebutkan bahwa gaya kepemimpinan tersebut
dipengaruhi oleh sifat dan perilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Karena sifat
dan perilaku antara seorang dengan orang lainnyatidak persis sama, maka gaya
kepemimpinan (leadership style) yang diperlihatkan pun juga tidak sama.
Bertitik tolak dari pendapat adanya hubungan antara gaya kepemimpinan dengan
perilaku tersebut, maka dalam membicarakan gaya kepemimpinan yang untuk bidang
administrasi sering dikaitkan dengan pola manajemen (pattern of management),
sering dikaitkan dengan pembicaraan tentang perilaku. Tegantung dari sifat dan
perilaku yang dihadapi dalam suatu organisasi dan atau yang dimiliki oleh
pemimpin,
maka
gaya kepemimpinan yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin dapat berbeda antara
satu dengan yang lainnya.
Berbagai gaya kepemimpinan tersebut jika disederhanakan
dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1. Gaya Kepemimpinan Otoriter
Pada gaya kepemimpinan Otoriter (dictatorial leadership
style) ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutanserta
ancaman hukuman. Tidak ada hubungan dengan bawahan, karena mereka dianggap
hanya sebagai pelaksana dan pekerja saja.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pada gaya kepemimpinan demokratis (democratic leadership
style) ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan
secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dengan baik. Segi positif
dari gaya kepemimpinan ini mendatangkankeuntungan antara lain: keputusan serta
tindakan yang lebih obyektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki, serta terbinanya
moral yang tinggi. Sedangkan kelemahannya : keputusan serta tindakan kadang
-kadang lamban, rasa tanggung jawab kurang, serta keputusan yang dibuat
terkadang bukan suatu keputusan yang terbaik.
3. Gaya Kepemimpinan Partisipasif
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama
antara gaya kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah
dan mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan
saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan selanjutnya
menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan bawahannya untuk
memecahkan masalah yang ada.
4. Gaya Kepemimpinan Santai
Pada gaya kepemimpinan santai (laissez -faire leadership
style) ini peranan pimpinan hampir tidak terlihat karena segala keputusan
diserahkan kepada bawahan, jadi setiap anggota organisasi dapat
melakukankegiatan masing -masing sesuai dengan kehendak masing -masing pula.
2.4. Penerapan Teori, Konsep dan Prinsip Kepemimpinan Manajemen di Ruang Rawat dan Puskesmas
A.
Penerapan
Teori Kepemimpinan Manajemen di Ruang Rawat dan Puskesmas
Saat ini perawat profesional mengemban peran penting dalam
praktik keperawatan mengenai kepemimpinan dan managemen keperawatan, terlepas
dari apapun aktivitas yang mereka lakukan. Kepemimpinan dan managemen adalah
dua hal yang berbeda, namun saling terkait. Kepemimpinan didefinisikan sebagai
“proses mempengaruhi orang lain”. Manajemen tidak hanya meliputi kepemimpinan,
tetapi juga koordinasi dan integrasi sumber daya melalui perencanaan,
pengorganisasian, pengkoordinasikan, pengarahan, dan pengendalian untuk
mencapai tujuan dan objek spesifik dari institusi (Huber, 2000). Pemimpin
berfokus pada orang, sedangkan manajer berfokus pada struktur. Perawat
dapat mengemban peran kepemimpinan dalam
lingkungan kerja mereka, dan komunitas mereka, meskipun mereka memiliki atau
tidak memiliki posisi kepemimpinan yang ditetapkan. Sebagai pemimpin di tempat
kerja (puskesmas), mereka dapat membantu dalam perbaikan kualitas perawatan
klien. Sebagai pemimpin di profesi, perawat tidak hanya dapat membantu
perbaikan perawatan klien, tetapi juga perbaikan lingkungan kerja perawat.
Karena pengetahuan dan ketrampilan khususnya, perawat dapat mengemban tugas
memimpinnya di komunitas, membantu perubahan yang meningkatkan kesejahteraan
fisik, psikologis, dan social dalam masyarakat sebagai satu kesatuan. Sebagai
seorang manager dan pemberi perawatan klien, perawat mengkoordinasikan berbagai
profesional perawatan kesehatan dan layanan mereka untuk membantu klien
mendapatkan hasil akhir yang mereka inginkan.
B. Konsep dan Prinsip Kepemimpinana Manajemen di Ruang Rawat dan Puskesmas
1. Manajemen
keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui fungsi
perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan, pemecahan
masalah yang efektif dan terencana.
2. Manajemen
keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif. Manajer
keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang terprogram
dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
3. Manajemen
keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai situasi maupun
permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan keperawatan memerlukan
pengambilan keputusan di berbargai tingkat manajerial.
4.
Memenuhi kebutuhan asuhan
keperawatan pasien merupakan fokus perhatian manajer perawat dengan
mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakini dan ingini. Kepuasan
pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan keperawatan.
5. Manajemen
keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai dengan
kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6. Pengarahan
merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi proses
pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana yang
telah diorganisasikan.
7.
Divisi keperawatan yang baik
memotivasi karyawan untuk memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
8. Manajemen
keperawatan menggunakan komunikasin yang efektif. Komunikasi efektif akan
mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan
pengertian diantara pegawai.
9.
Pengembangan staf penting untuk
dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawat–perawat pelaksana menduduki posisi
yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan.
10. Pengendalian
merupakan elemen manajemen keperawatan yang meliputi penilaian tentang
pelaksanaan rencana yang telah dibuat, pemberian instruksi dan menetapkan
prinsip –prinsip melalui penetapan standar, membandingkan penampilan dengan
standar dan memperbaiki kekurangan.
Berdasarkan prinsip–prinsip diatas maka para manajer dan
administrator seyogyanya bekerja bersama dalam perencanaan dan pengorganisasian
serta fungsi–fungsi manajemen lainnya untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan
Kepemimpinan dibandang sebagai suatu proses interaktif yang
dinamis yang mencakup tiga dimensi; pimpinan, bawahan dan situasi.
Masing-masing dari dimensi tadi saling mempengaruhi misalnya, pencapaian tujuan
tergantung bukan karena hanya sifat pribadi dari seorang pemimpin, tetapi juga
tergantung dari kebutuhan bawahan dan bentuk dari suatu keadaan.
B. Saran
Kami berharap agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami
dengan baik, tentang model-model kepemimpinan dalam keperawatan agar menjadi
pedoman kita sebagai perawat.
DAFTAR PUSTAKA
3.
Kuntoro, Agus. 2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan.
Yogyakarta : Nuha Medika
4.
Suarli S. Yanyan Bachtiar (2009) Manajemen Keperawatan Pendekatan Praktis:
Jakarta: Erlangga
5.
Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta :
EGC
8.
James A.F. Stoner, Management,
Secont Editions, Prentice-Hall International, Inc., 1982.
9.
Robert J. Thierauf, Robert C.
Klekamp, Daniel W. Gedding, Management Principles and Practices: A Contigency
and Questionnare Approach, John Willey & Son, New York, 1997
10.
Stephen J. Carrol & Henry L.
Tosy, Organizational Behavior, John Willey & Son, New York, 1977
11. Fiedler, F.E.1967. A Theory of Leadership Effectivenss, New
York: McGraw-Hill.
12.
Stoner, James A.F dan R. Edward
Freeman. 1989. Management, Prentice-Hall
of India.
13.
Vroom V. dan Yetton, P. 1974. Leadership and Decision Making,
Pittsburgh, PA: University of Pittsbyrgh Press.
14.
Robbins, Stephen, et.al. 1994. Organizational Beharviour: Concepts,
Controversies and Applications, Prentice-Hall Australia and New Zealand.
15.
Howell, J.M. dan Avolio, B.J. 1993.
Transformational Leadership,Transactional
Leadership, Locus of Control Support for Innovation, Journal of Applied
Psychology 78, p. 891-902.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar